BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Aktivitas
penelitian pada dasarnya sering dilakukan oleh manusia. Tidak hanya kalangan
professor, doktor, atau juga mahasiswa. Secara tak sadar ketika seorang ibu
melakukan pengamatan atas perkembangan anaknya jika dikorelasikan dengan susu
formula yang diberikan, pada saat itulah sebenarnya ibu tersebut telah
melakukan salah satu tindak penelitian. Demikian pula bapak tani ketika
melakukan pengamatan atas jenis pupuk yang dipakai dikorelasikan dengan hasil panennya.
Hanya saja penelitian itu tidak terstruktur dengan metode tertentu.
Secara umum
metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan
tujuan dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu
didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris dan sistematis.
Rasional berarti kegiatan penelitian itu dilakukan dengan cara-cara yang masuk
akal sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. Empiris berarti cara-cara yang dilakukan dapat diamati
oleh indera manusia sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui
cara-cara yang digunakan. Sistematis artinya proses yang digunakan dalam
penelitian itu menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis.
Antara
penelitian dan metode ilmiah, kadang-kadang disamakan artinya. Penyamaan
tersebut terjadi karena adanya langkah-langkah yang relatif sama. Perbedaan
pokok antara penelitian dengan metode ilmiah dapat dilihat dari kegiatannya.
Kerja penelitian menuntut objektivitas, baik di dalam proses atau pengukurannya,
maupun penyimpulan hasil. Suatu kerja penelitian juga memerlukan proses
intensif, sistematik, berfokus dan lebih formal. Selain itu, suatu kerja penelitian dilakukan
dalam rangka penemuan dan pengembangan bangunan ilmu (pengembangan
generalisasi, prinsip-prinsip dan teori-teori) yang memiliki kekuatan deskripsi
dan atau prediksi. Sedangkan metode ilmiah
mementingkan aplikasi berpikir deduktif induktif di
dalam pemecahan masalah.
Dalam hubungan
ini, bisa mengikuti proses identifikasi masalah (pengembangan hipotesis),
melakukan observasi, menganalisis kemudian menyimpulkan hasilnya. Proses-proses
tersebut dapat dilakukan secara informal dalam kehidupan sehari-hari dan belum
tentu dapat disebut sebagai suatu kerja penelitian.
Dalam penelitian
dikenal istilah kuantitatif dan kualitatif.
Di tingkat metodologi, sejak awal pertumbuhan ilmu-ilmu sosial
sudah dikenal ada dua mazhab penelitian sosial. Dalam
konteks ini Sanapiah Faisal membaginya menjadi 2 yaitu: Pertama, mazhab
penelitian sosial yang menggunakan pendekatan kuantitatif, atau yang lebih
populer dengan sebutan Pendekatan Penelitian Kuantitatif. Kedua, mazhab
penelitian sosial yang menggunakan pendekatan kualitatif, atau yang biasa dikenal
dengan sebutan Pendekatan Penelitian Kualitatif. Munculnya dua
mazhab pendekatan penelitian tersebut merupakan konsekuensi metodologis dari
perbedaan asumsi masing-masing tentang hakikat realitas sosial dan hakikat
manusia itu sendiri. Dengan kata lain, kehadiran pendekatan penelitian
kuantitatif disatu
pihak dan kehadiran pendekatan penelitian kualitatif di lain pihak, tidak
terlepas dari perbedaan paradigma antara keduanya di dalam memandang hakikat
realitas sosial dan hakikat manusia (Burhan Bungin, 2003: 25).
Suharsimi Arikunto berpendapat kaitan pilihan memulai dan memilih suatu pendekatan
atau metode ilmiah juga yang ada dalam penelitian tentu tidak bisa
terlepas dari kebaikan dan kelemahan, keuntungan dan kerugian. Oleh karena itu
untuk dapat memberikan pertimbangan dan keputusan mana yang lebih baik dalam penggunaan
suatu pendekatan maka terlebih dahulu perlu dipahami
masing-masing pendekatan tersebut (Suharsimi Arikunto, 2006: 11).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dipaparkan di atas, maka untuk
memudahkan pembahasan, kami buat rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Apakah yang dimaksud dengan penelitian
kuantitatif ?
2.
Bagaimanakah langkah-langkah penelitian
kuantitatif ?
3. Bagaimanakah sistematika penulisan proposal
penelitian kuantitatif ?
C. Tujuan Pembahasan
Tujuan pembahasan dalam makalah ini adalah
agar mahasiswa/pembaca tahu tentang:
1. Pengertian penelitian kuantitatif.
2. Langkah-langkah penelitian kuantitatif.
3.
Sistematika penulisan proposal penelitian
kuantitatif.
BAB II
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Penelitian Kuantitatif
Penelitian
kuantitatif dibangun oleh paradigma positivisme. Sebuah paradigma yang diilhami
oleh David Hume, John Locke, dan Berkeley yang menekankan
pengalaman sebagai sumber pengetahuan dan memandang pengetahuan memiliki
kesamaan hubungan dengan aliran filsafat yang dikenal dengan nama positivisme. Untuk
selanjutnya penelitian kuantitatif dikembangkan oleh para penganut paham
positivisme yang dipelopori oleh August Comte. Mereka berpendapat bahwa
untuk memacu perkembangan ilmu-ilmu social, maka metode metode Ilmu Pengetahuan
Alam (IPA) harus diadopsi ke dalam riset-riset ilmu sosial.
Penelitian
kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian yang spesifikasinya adalah
sistematis, terencana, dan terstruktur dengan jelas sejak awal hingga pembuatan
desain penelitiannya. Definisi lain menyebutkan penelitian kuantitatif adalah
penelitian yang banyak menuntut penggunaan angka, mulai dari pengumpulan data,
penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya. Demikian
pula pada tahap kesimpulan penelitian akan lebih baik bila disertai dengan
gambar, table, grafik, atau tampilan lainnya.
Menurut Sugiyono, metode
penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang
berlandaskan pada filsafat positivism, digunakan
untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu. Teknik
pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data
menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik
dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiono, 2009: 14).
Metode kuantitatif sering juga disebut metode
tradisional, positivistik, scientific dan metode
discovery. Metode kuantitatif dinamakan metode tradisional, karena metode ini
sudah cukup lama digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk
penelitian. Metode ini disebut sebagai metode positivistik karena berlandaskan
pada filsafat positivisme. Metode ini disebut sebagai metode
ilmiah (scientific) karena metode ini telah memenuhi
kaidah-kaidah ilmiah yaitu konkrit, empiris,
obyektif, terukur, rasional dan sistematis. Metode ini juga disebut metode
discovery karena dengan metode ini dapat ditemukan dan dikembangkan berbagai
iptek baru. Metode ini disebut metode kuantitatif karena data penelitian berupa
angka-angka dan analisis menggunakan statistik.
Penelitian
kuantitatif merupakan studi yang diposisikan sebagai bebas nilai (value
free). Dengan kata lain, penelitian
kuantitatif sangat ketat menerapkan prinsip-prinsip
objektivitas. Objektivitas itu diperoleh antara lain melalui
penggunaan instrumen yang telãh diuji validitas dan reliabilitasnya. Peneliti
yang melakukan studi kuantitatif mereduksi sedemikian rupa hal-hal yang dapat
membuat bias, misalnya akibat masuknya persepsi dan nilai-nilai pribadi. Jika
dalam penelaahan muncul adanya bias itu, penelitian kuantitatif akan jauh dari
kaidah-kaidah teknik ilmiah yang sesungguhnya (Sudarwan Danim, 2002: 35).
Dalam hal
pendekatan, penelitian kuantitatif
lebih mementingkan adanya variabel-variabel sebagai objek penelitian dan
variabel-variabel tersebut harus didefenisikan dalam bentuk operasionalisasi
variabel masing-masing. Reliabilitas dan
validitas merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam menggunakan
pendekatan ini karena kedua elemen tersebut akan menentukan kualitas hasil
penelitian dan kemampuan replikasi serta generalisasi penggunaan model
penelitian sejenis. Selanjutnya, penelitian kuantitatif memerlukan adanya
hipotesa dan pengujian yang kemudian akan
menentukan tahapan-tahapan berikutnya, seperti penentuan teknik analisa dan formula statistik yang akan
digunakan. Juga, pendekatan ini lebih memberikan
makna dalam hubungannya dengan penafsiran angka statistik bukan pada makna
secara kebahasaan dan kulturalnya.
Dalam penelitian kuantitatif diyakini adanya sejumlah asumsi sebagai dasar dalam
melihat fakta atau gejala. Asumsi-asumsi yang dimaksud
adalah:
a)
Objek-objek
tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain, baik bentuk, struktur, sifat
maupun dimensi lainnya.
b)
Suatu benda
atau keadaan tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu.
c) Suatu gejala
bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan, melainkan merupakan
akibat dari faktor-faktor yang
mempengaruhinya (Jonathan Sarwono, 2011)
Sejalan dengan
penjelasan diatas, secara epistemologi paradigma
kuantitatif berpandangan bahwa sumber ilmu terdiri dari dua hal,
yaitu pemikiran rasional dan empiris. Karena
itu, ukuran kebenaran terletak pada koherensi (sesuai dengan teori-teori terdahulu) dan korespondensi (sesuai dengan kenyataan empiris). Kerangka pengembangan ilmu itu dimulai dengan proses perumusan
hipotesis yang dideduksi dari teori, kemudian diuji kebenarannya melalui
verifikasi untuk diproses lebih lanjut secara induktif menuju perumusan teori
baru. Jadi, secara epistemologis pengembangan ilmu itu berputar mengikuti
siklus, logico, hipotetico dan verifikatif.
Ada tiga hal mendasar yang harus diketahui dalam penelitian kuantitatif
yaitu aksioma, karakteristik penelitian dan proses penelitian.
a. Aksioma (Pandangan
Dasar)
Aksioma meliputi
realitas, hubungan peneliti dengan yang diteliti, hubungan variable,
kemungkinan generalisasi dan peranan nilai.
|
Aksioma Dasar
|
Metode Kuantitatif
|
|
Sifat realitas
|
Dapat diklasifikasikan, konkrit, teramati, terukur
|
|
Hubungan
peneliti dengan yang diteliti |
Independen, supaya terbangun obyektivitas
|
|
Hubungan variabel
|
Kausalitas (sebab-akibat)
|
|
Kemungkinan generalisasi
|
Cenderung membuat generalisasi
|
|
Peranan nilai
|
Cenderung bebas nilai
|
b. Karakteristik Penelitian
Penelitian
kuantitatif memiliki beberapa karakteristik
berikut:
1.
Desain
a)
Spesifik,
jelas, rinci
b)
Ditentukan
secara mantab sejak awal
c)
Menjadi
pegangan langkah demi langkah.
2.
Tujuan
a)
Menunjukkan
hubungan antar variable
b)
Menguji teori
c)
Mencari
generalisasi yang memiliki
nilai prediktif
3.
Tehnik
Pengumpulan data
a)
Kuesioner
b)
Observasi dan
wawancara terstruktur
4.
Instrumen
Penelitian
a)
Tes, angket,
wawancara terstruktur
b)
Instrument yang
telah terstandart
5.
Data
a)
Kuantitatif
b)
Hasil
pengukuran variable yang dioperasionalkan dengan menggunakan instrument
6.
Sampel
a)
Besar
b)
Representatif
c)
Sedapat mungkin
random
d)
Ditentukan
sejak awal
7.
Analisis
a)
Setelah sèlesai
pengumpulan
b)
Deduktif
c)
Menggunakan
statistik
8.
Hubungan dengan
Responden
a)
Dibuat
berjarak, bahkan sering tanpa kontak supaya obyektif
b)
Kedudukan
peneliti lebih tinggi daripada responden
c)
Jangka pendek
sampai hipotesis dapat ditemukan.
9.
Usulan Desain
a)
Luas dan rinci
b)
Literatur yang
berhubungan dengan masalah dan variabel yang diteliti
c)
Prosedur yang
spesifik dan rinci langkah langkahnya
d)
Masalah
dirumuskan dengan spesifik dan jelas
e)
Hipotesis
dirumuskan dengan jelas
f)
Ditulis secara
rinci dan jelas sebelum terjun ke lapangan
10. Kapan penelitian dianggap selesai?
a)
Setelah semua
kegiatan yang direncanakan dapat diselesaikan
11. Kepercayaan terhadap hasil Penelitian
a)
Pengujian
validitas dan realiabilitas instrument (Sugiono, 2009: 23-24).
c. Proses Penelitian
Seperti telah
diketahui bahwa penelitian itu pada prinsipnya adalah untuk menjawab masalah.
Masalah merupakan penyimpangan dari apa yang
seharusnya dengan apa yang terjadi sesungguhnya. Penyimpangan antara aturan
dengan pelaksanaan, teori dengan praktek, perencanaan dengan pelaksanaan dan
sebagainya. Penelitian kuantitatif bertolak dari
studi pendahuluan dari obyek yang diteliti (preliminary study) untuk mendapatkan hal yang
betul-betul menjadi masalah. Selanjutnya supaya masalah
dapat dijawab maka masalah tersebut dirumuskan secara spesifik dan pada umumnya
dibuat dalam bentuk kalimat tanya.
Selain itu
penemuan penelitian sebelumnya yang relevan juga dapat digunakan sebagai bahan
untuk memberikan jawaban sementara terhadap rumusan masalah
penelitian (hipotesis). Jadi kalau jawaban terhadap rumusan masalah yang baru didasarkan
pada teori dan didukung oleh penelitian yang relevan tetapi belum ada
pembuktian secara empiris (faktual) maka jawaban itu disebut hipotesis.
Untuk menguji
hipotesis tersebut peneliti dapat rnemilih metode,
strategi, pendekatan atau desain penelitian yang sesuai.
Pertimbangan ideal untuk memilih metode itu adalah tingkat ketelitian data yang
diharapkan dan konsistensi yang
dikehendaki. Sedangkan yang menjadi pertimbangan
praktis adalah
tersedianya dana, waktu dan kemudahan-kemudahan
yang lain.
Dalam
penelitian kuantitatif, metode penelitian yang dapat digunakan adalah metode survey, ex
post facto, eksperimen, evaluasi, action research dan
policy research (selain metode
naturalistik dan sejarah). Setelah metode penelitian yang sesuai dipilih, maka
peneliti dapat menyusun instrumen penelitian. Instrumen ini digunakan sebagai
alat pengumpul data yang dapat berbentuk test, angket/kuesioner
untuk pedoman wawancara atau observasi. Sebelum instrumen digunakan untuk mengumpulkan
data, maka instrumen penelitian harus terlebih dulu diuji validitas dan
reliabilitasnya.
Pengumpulan
data dilakukan pada obyek tertentu baik yang berbentuk
populasi maupun sampel. Bila peneliti ingin membuat generalisasi terhadap
temuannya, maka sampel yang diambil harus representatif
(mewakili). Setelah data terkumpul, selanjutnya
dianalisis untuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis yang diajukan
dengan teknik statistik tertentu. Berdasarkan analisis apakah hipotesis yang diajukan ditolak atau
diterima, atau apakah penemuan itu sesuai dengan hipotesis yang diajukan
atau tidak. Langkah terakhir dalam penelitian kuantitatif adalah rumusan kesimpulan yang merupakan jawaban
terhadap rumusan masalah.
Berdasarkan proses penelitian kuantitatif di atas maka tampak bahwa
proses penelitian kuantitatif bersifat linier, di mana langkah-langkahnya
jelas, mulai dari rumusan masalah, berteori, berhipotesis, mengumpulkan data,
analisis data dan membuat kesimpulan serta saran.
d. Penggunaan Metode Penelilitan Kuantitatif
Metode penelitian kuantitatif tepat digunakan:
1.
Jika masalah yang menjadi titik tolak penelitian sudah jelas.
Masalah adalah kesenjangan antara harapana dan kenyataan (das sollen dan das
sein), antara aturan dengan pelaksanaan, antara teori dengan praktek,
antara rencana dengan pelaksanaan dan sebagainya. Dalam menyusun proposal penelitian, masalah ini harus ditunjukkan
dengan data, baik data hasil penelitian sendiri maupun dokurnentasi. Misalnya
akan meneliti untuk menemukan pola pemberantasan kemiskinan, maka data orang
miskin sebagai rnasalah harus ditunjukkan.
2.
Jika peneliti ingin mendapatkan
informasi yang luas dari
suatu populasi. Metode penelitian kuantitatif cocok digunakan untuk mendapatkan
infomasi yang luas tetapi tidak mendalam. Bila populasi terlalu luas, maka
penelitian dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut.
3.
Jika ingin diketahui pengaruh perlakuan/treatment
tertentu terhadap yang lain. Untuk kepentingan ini metode eksperimen paling
cocok digunakan. Misalnya pengaruh jamu tertentu terhadap derajat kesehatan.
4.
Jika peneliti bermaksud menguji hipotesis penelitian. Hipotesis penelitian dapat
berbentuk hipotesis deskriptif komparatif dan asosiatif.
5.
Jika peneliti ingin mendapatkan data
yang akurat, berdasarkan fenomena yang empiris dan dapat diukur. Misalnya ingin
mengetahui IQ anak-anak dan masyarakat tertentu, maka dilakukan pengukuran
dengan test IQ.
6.
Jika ingin menguji terhadap adanya
keragu-raguan tentang validitas pengetahuan, teori dan produk tertentu.
B. Langkah-Langkah Penelitian Kuantitatif
1. Penyusunan Latar Belakang Masalah
Latar belakang
masalah memuat hal-hal yang melandasi dilakukannya penelitian. Hal
yang menarik untuk dilakukan penelitian biasanya karena adanya
kesenjangan antara harapan dan kenyataan (das sollen dan das sein), antara aturan dengan pelaksanaan, antara teori dengan praktek,
antara rencana dengan pelaksanaan dan sebagainya.
Dalam bagian ini dimuat deskripsi singkat wilayah penelitian dan juga jika
diperlukan hasil penelitian dari peneliti-peneliti
sebelumnya. Secara rinci latar belakang masalah berisi:
a.
Argumentasi; mengapa
masalah tersebut menarik untuk diteliti dipandang dari segi keilmuan maupun kebutuhan praktis.
b.
Penjelasan
akibat-akibat negatif jika masalah tersebut tidak dipecahkan.
c.
Penjelasan
dampak positif yang timbul dari hasil-hasil penelitian
d.
Penjelasan
bahwa masalah tersebut relevan,
aktual dan sesuai dengan situasi dan
kebutuhan zaman.
e.
Relevansinya
dengan
penelitian-penelitian sebelumnya.
f.
Gambaran hasil
penelitian dan manfaatnya bagi masyarakat atau negara dan bagi perkembangan
ilmu (Wardi Bachtiar, 1997: ).
2. Identifikasi,
Pemilihan dan Perumusan Masalah
a. Identifikasi Masalah
Masalah
penelitian dapat diidentifikasi sebagai adanya kesenjangan antara apa yang
seharusnya dan apa yang ada dalam kenyataan, adanya kesenjangan informasi atau
teori dan sebagainya.
b. Pemilihan Masalah
1.
Mempunyai nilai
penelitian (asli penting dan dapat diuji).
2.
Fisible (biaya,
waktu dan kondisi).
3.
Sesuai dengan
kualifikasi peneliti.
4.
Menghubungkan
dua variabel atau lebih (Nazir: 1988).
c. Sumber Masalah
Bacaan,
seminar, diskusi, pengamatan, pengalaman, hasil penelitian terdahulu, dan
lain-lain.
d. Perumusan Masalah
1)
Dirumuskan
dalam bentuk kalimat tanya.
2)
Jelas dan padat.
3)
Dapat menjadi
dasar dalam merumuskan
hipotesa dan judul penelitian
Selain
dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya, suatu
masalah dapat dirumuskan dengan menggunakan kalimat berita. Keduanya sama
baiknya akan tetapi ada perbedaan dalam kemampuannya mengkomunikasikan pesan
yang ada di dalamnya. Kalimat berita lebih bersifat memberikan gambaran tentang
karakteristik masalah yang bersangkutan, sedangkan
kalimat tanya dapat lebih mengakibatkan adanya tantangan untuk mengumpulkan
informasi lebih lanjut.
Terlepas dari bentuk perumusan masalah yang digunakan, terdapat
beberapa kriteria yang dapat dipakai sebagai pegangan untuk merumuskan masalah,
yaitu:
1.
Masalah yang
dirumuskan harus mampu menggambarkan penguraian tentang gejala-gejala yang
dimilikinya dan bagaimana kaitan antara gejala satu dengan gejala lainnya.
2.
Masalah harus
dirumuskan secara jelas dan tidak mendua, artinya tidak ada maksud lain yang terkandung selain bunyi
masalahnya. Rumusan masalah tersebut juga harus dapat menerangkan dirinya
sendiri sehingga tidak diperlukan keterangan lain untuk menjelaskannya. Masalah
yang baik selalu dilengkapi dengan rumusan yang utuh antara unsur sebab dan
unsur akibat sehingga dapat menantang pemikiran lebih jauh.
3.
Masalah yang
baik hendaknya dapat memancing pembuktian lebih lanjut secara empiris. Suatu
masalah tidak hanya menggambarkan hubungan antar gejala tetapi juga bagaimana gejala-gejala tersebut dapat diukur
(Ace Suryadi: 2000).
3. Perumusan
Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.
Tujuan
penelitian adalah suatu pernyataan tentang apa yang akan kita cari/capai dari
masalah penelitian. Cara merumuskan tujuan masalah yang paling mudah adalah dengan mengubah kalimat pertanyaan dalam
rumusan masalah menjadi kalimat pernyataan.
2.
Manfaat
penelitian mencakup manfaat teoritis dan praktis.
3.
Telaah Pustaka
Manfaat telaah pustaka adalah:
1.
Untuk
memperdalam pengetahuan tentang masalah
yang diteliti.
2.
Menyusun
kerangka teoritis yang menjadi landasan pemikiran.
3.
Untuk
mempertajam konsep yang digunakan sehingga memudahkan perumusan hipotesa.
4) Untuk menghindari terjadinya pengulangan penelitian.
Pembentukan Kerangka Teori
Kerangka teori
merupakan landasan pemikiran yang membantu arah penelitian, pemilihan konsep,
perumusan hipotesa dan memberi kerangka orientasi untuk klasifikasi dan
analisis data (Koentjaraningrat:1973). Kerangka teori dibuat berdasarkan
teori-teori yang sudah ada atau berdasarkan pemikiran logis yang dibangun oleh
peneliti sendiri.
Teori yang
dibahas atau teori yang dikupas harus memiliki relevansi yang
kuat dengan permasalahan penelitian. Sifatnya mengemukakan bagaimana seharusnya
tentang masalah yang diteliti tersebut berdasar konsep atau teori-teori
tertentu. Khusus untuk penelitian hubungan dua variabel atau lebih maka dalam landasan teori harus dapat
digambarkan secara jelas bagaimana hubungan dua variabel tersebut.
6. Perumusan Hipotesis
Hipotesis
merupakan jawaban terhadap masalah penelitian yang secara teoritis dianggap paling mungkin dan paling
tinggi tingkat kebenarannya. Hipotesis merupakan
kristalisasi dari kesimpulan teoritik yang diperoleh dari telaah pustaka.
Secara statistik, hipotesis merupakan pernyataan mengenai keadaan populasi yang akan diuji kebenarannya berdasarkan data yang
diperoleh dari sampel penelitian.
7. Definisi Operasional dan Klasifikasi Variabel Penelitian
Konsep
merupakan definisi dari sekelompok fakta atau gejala (yang akan diteliti).
Konsep ada yang sederhana dan dapat dilihat,
seperti konsep tentang meja, kursi dan sebagainya, juga ada
konsep yang abstrak dan tak dapat dilihat seperti
konsep partisipasi, peranan dan sebagainya. Konsep yang tak dapat dilihat disebut
construct. Karena construct bergerak di alam abstrak maka perlu
diubah dalam bentuk yang dapat diukur secara empiris, atau dalam kata lain
perlu ada definisi operasional yakni mengubah konsep
dengan kata-kata yang menggambarkan perilaku atau gejala yang dapat diamati dan
dapat diuji kebenarannya oleh orang lain.
Konsep yang
mempunyai variasi nilai disebut variabel. Variabel dibagi menjadi dua:
a. Variabel deskrit/katagorikal,
misalnya variabel jenis kelamin.
b. Variabel continues,
misalnya variabel umur.
Proses
pengukuran variabel merupakan rangkaian dari empat aktivitas pokok yaitu:
1.
Menentukan
dimensi variabel penelitian. Variabel-variabel penelitian sosial sering kali
memiliki lebih dari satu dimensi.
Semakin lengkap dimensi suatu variabel yang dapat diukur maka semakin baik pula ukuran yang dihasilkan.
2.
Merumuskan
dimensi variabel. Setelah dimensi-dimensi suatu variabel dapat ditentukan,
barulah dirumuskan ukuran untuk masing-masing dimensi. Ukuran ini biasanya
berbentuk pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan dimensi tadi.
3.
Menentukan
tingkat ukuran yang akan digunakan dalam pengukuran. Apakah skala: nominal,
ordinal, interval atau ratio.
4.
Menguji tingkat
validitas dan reliabilitas dari alat pengukur apabila yang dipakai adalah alat
ukur yang baru.
Contoh yang bagus dalam proses
pengukuran suatu variabel dikemukakan oleh Glock dan Stark yang
mengembangkan suatu konsep untuk
mengukur tingkat religiusitas. Menurut pendapat mereka,
konsep religiusitas mempunyai lima dimensi berikut:
1.
Ritual Involvement,
yaitu tingkatan sejauh mana orang mengerjakan kewajiban ritual di dalam agama
mereka. Seperti sholat, puasa, membayar zakat, dan lain-lain, bagi yang
beragama Islam.
2.
Ideologi
Involvement, yaitu tingkatan sejauh mana orang menerima hal-hal yang dogmatik
di dalam agama mereka masing-masing. Misal apakah seseorang yang beragama
percaya tentang adanya malaikat, hari kiamat, surga, neraka, dan hal lain yang
sifatnya dogmatik.
3.
Intellectual
Involvement, sebenarnya sejauh mana seseorang
mengetahui tentang ajaran agamanya. Seberapa jauh aktivitasnya di dalam
menambah pengetahuan agamanya, apakah dia mengikuti pengajian, membaca
buku-buku agama, bagi yang beragama Islam. Bagi yang beragama Kristen apakah dia menghadiri Sekolah Minggu,
membaca buku-buku agama, dan lain-lain. Demikian pula dengan pemeluk agama
lainnya, apakah dia mengerjakan hal-hal yang serupa.
4.
Experiential
Involvement, yaitu dimensi yang berisikan pengalaman-pengalaman unik dan
spektakuler yang merupakan keajaiban yang datang dari Tuhan. Misalnya, apakah
seseorang pernah merasakan bahwa doanya dikabulkan Tuhan; apakah dia pernah merasakan bahwa jiwanya selamat dari bahaya karena
pertolongan Tuhan, dan lain-lain.
5.
Consequential
Involvement, yaitu dimensi yang mengukur sejauh mana perilaku seseorang
dimotifikasikan oleh ajaran agamanya. Misalkan apakah dia menerapkan ajaran
agamanya di dalam kehidupan sosial. Misalnya, apakah dia pergi mengunjungi tetangganya yang sakit,
mendermakan sebagian kekayaannya untuk kepentingan fakir miskin, menyumbangkan
uangnya untuk pendirian rumah yatim piatu, dan lain-lain (Djamaludddin Ancok, 1989: 32).
Dimensi-dimensi
di atas kemudian diperinci dalam aspek yang lebih kecil dalam bentuk
pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian dijadikan
komponen alat pengukur terhadap dimensi tingkat religiusitas.
C. Sistematika Penulisan Proposal Penelitian Kuantitatif
Proposal penelitian pada umumnya memuat 3 bagian, yaitu: bagian awal,
bagian utama dan bagian akhir. Bagian awal memuat halaman judul, halaman
persetujuan dan daftar isi. Bagian utama memuat latar belakang masalah, rumusan
masalah/fokus penelitian, tujuan penelitian, hipotesis penelitian, kegunaan
hasil penelitian, penegasan istilah, tinjauan pustaka, kerangka konseptual,
paradigma penelitian, metode penelitian dan sistematika pembahasan. Sedangkan
bagian akhir memuat daftar rujukan dan lampiran (Ahmad Tanzeh, 2011: 99).
Sebagai acuan,
proposal penelitian kuantitatif dapat dikemas dalam sistematika penulisan
sebagai berikut:
I . Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Pembatasan Masalah
D. Perumusan Masalah
E. Tujuan Penelitian
F. Kegunaan/Manfaat Penelitian
II. Deskripsi Teori,
Kerangka Berpikir, Dan Hipotesis
A. Deskripsi Teoretik
B. Kerangka Berpikir
C. Hipotesis
III. Prosedur
Penelitian
A. Metode Penelitian
B. Populasi dan Sampel
C. Instrumen Penelitian
D. Tehnik Pengumpulan Data
E. Tehnik Analisis Data
IV. Organisasi
dan Jadwal
Kegiatan Penelitian
A. Organisasi Penelitian
B. Jadwal Penelitian
V. Biaya yang Diperlukan (Sugiyono, 2009: 384).
BAB III
KESIMPULAN
Dari hasil pembahasan makalah di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut:
1.
Penelitian
kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian yang spesifikasinya adalah
sistematis, terencana, dan terstruktur dengan jelas sejak awal hingga pembuatan
desain penelitiannya. Penelitian
kuantitatif adalah penelitian yang banyak menuntut penggunaan angka, mulai dari
pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya.
2.
Proses penelitian kuantitatif bersifat linier, di mana langkah-langkahnya
jelas, mulai dari penyusunan latar belakang masalah;
identifikasi, pemilihan dan perumusan masalah; perumusan tujuan dan manfaat
penelitian; telaah pustaka; pembentukan kerangka teori; perumusan hipotesis;
serta definisi operasional dan klasifikasi variabel penelitian.
3.
Penyusunan proposal penelitian kuantitatif mengikuti
sistematika sebagai berikut:
I . Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Pembatasan Masalah
D. Perumusan Masalah
E. Tujuan Penelitian
F. Kegunaan/Manfaat Penelitian
II. Deskripsi Teori,
Kerangka Berpikir, dan
Hipotesis
A. Deskripsi Teoretik
B. Kerangka Berpikir
C. Hipotesis
III. Prosedur
Penelitian
A. Metode Penelitian
B. Populasi dan Sampel
C. Instrumen Penelitian
D. Tehnik Pengumpulan Data
E. Tehnik Analisa Data
IV. Organisasi
dan Jadwal
Kegiatan Penelitian
A. Organisasi Penelitian
B. Jadwal Penelitian
V. Biaya yang Diperlukan
DAFTAR PUSTAKA
Ancok, Djamaluddin. (1989). Teknik Penyusunan Skala Pengukuran.
Yogyakarta:PPK UGM.
Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur
Penelitian. Jakarta:
Rineka Cipta.
Bachtiar, Wardi. (1997). Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah.
Jakarta: Logos.
Bungin, Burhan. (2003). Metodologi
Penelitian Kualitatif.
Jakarta: Raja Grafindo.
Danim, Sudarwan. (2002). Menjadi
Peneliti Kualitatif. Bandung: Pustaka Setia.
Jonathan, Sarwono. Perbedaan Dasar antara Pendekatan Kualittif dan Kuantitatif. http://js.unikom.ac.id/kualitatif/beda.html. Didownload
pada 22 Desember 2012.
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Pendidikan.
Bandung: Alfabeta
Tanzeh, Ahmad. (2011). Metodologi Penelitian Praktis. Yogyakarta: Teras
BAB I
PENDAHAULUAN
1.1. Latar Belakang
Penduduk
merupakan unsur penting dalam usaha untuk meningkatkan produksi dan
mengembangkan kegiatan ekonomi. Penduduk memegang peranan penting karena
menyediakan tenaga kerja, tenaga ahli, pimpinan perusahaan dan tenaga usahawan
yang diperlukan untuk menciptakan kegiatan ekonomi. disamping itu, pertambahan
jumlah penduduk mengakibatkan bertambah dan makin kompleksnya kebutuhan.
Jumlah penduduk dunia selalu
mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 0 Masehi, penduduk dunia
diperkirakan berjumlah seperempat miliar. Pada tahun 1600-an meningkat dua kali
lipat menjadi setengah miliar penduduk. Lalu pada tahun 1970 penduduk dunia
bertambah menjadi 3,6 miliar. Hanya 30 tahun kemudian, yaitu pada tahun 2000,
penduduk dunia sudah mencapai 7 miliar jiwa. Dengan data tersebut, kita bisa
melihat betapa pesatnya pertambahan jumlah umat manusia.
Pertambahan jumlah penduduk
yang paling besar justru terjadi di negara-negara miskin. Hal tersebut membuat
jurang kesenjangan antara negara kaya dengan negara miskin menjadi semakin
besar. Seorang ahli ekonomi Inggris bernama Thomas Robert Malthus pada tahun
1828 pernah meramalkan bahwa umat manusia sedang menuju kesengsaraan karena
jika jumlah populasi manusia semakin bertambah, maka lahan pertaian secara
otomatis akan semakin berkurang. Akibatnya, akan terjadi kelaparan,
kriminalitas, kemerosotan moral, wabah penyakit, dan bahkan perang untuk
memperebutkan lahan.
Penduduk juga merupakan sekumpulan orang-orang yang telah
lama menempati suatu daerah. Kepadatan penduduk dapat dihitung berdasarkan
jumlah penduduk untuk setiap satu kilometer persegi. Cara menghitungnya adalah
dengan membandingkan jumlah penduduk di suatu daerah dengan luas daerah yang ditempati.
Pertumbuhan penduduk suatu daerah
dipengaruhi oleh fertilitas, mortalitas dan migrasi. apabila angka fertilitas
lebih besar daripada angka mortalitas, maka pertumbuhan penduduk menjadi
posotif. Begitu juga dengan migrasi, apabila nilai migrasi masuk lebih besar
daripada nilai migrasi keluar, maka pertumbuhan penduduk menjadi positif.
Jumlah
penduduk di suatu daerah atau negara mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
Perubahan ini disebut dinamika penduduk. Perubahan penduduk ini meliputi
kelahiran, kematian, dan migrasi. S edangkan, jumlah penduduk yang meningkat
dari tahun ke tahun disebut pertumbuhan penduduk.
Pertumbuhan
penduduk sangat dipengaruhi oleh kelahiran, kematian, dan migrasi. Pertumbuhan
penduduk dikatakan meningkat bila kelahiran lebih tinggi daripada
kematian. Selain itu, jumlah orang yang datang (bermigrasi) lebih banyak
daripada kematian. Pertumbuhan penduduk dikatakan menurun bila kematian lebih
ti nggi daripada kelahiran. Selain itu, jumlah orang yang keluar atau
bermigrasi lebih sedikit daripada kematian.
Pertumbuhan penduduk suatu wilayah juga dapat di pengaruhi oleh dengan
adanya Migrasi, Urbanisasi, dan proses angka kalahiran yang tidak bisa di
seimbangkan dengan angka kematian, proses angka kelahiran yang semakin banyak
dalam suatu wilayah dapat mengakibatkan kepadatan penduduk yang semakin
meningkat setiap tahun, sehingga mengakiatkan tingkat kesejahteraan masyarakat
semakin menurun, dan keshatan masyarakat yang kian terpuruk.
Menurut
Pemikiran seorang pendeta bernama
Thomas Robert Malthus (1748 –1834) tentang penduduk dalam esseai-nya yang berjudul ”Essay on Principle of Population it Affects the
Future’ telah membangunkan kesadaran para ilmuwan dan anggota
masyarakat untuk menyadari tentang
dampak jumlah penduduk yang tidak terkendali bagi kehidupan manusia sendiri.
Dalam esseai-nya tersebut Thomas Robert
Malthus menyatakan: ”apa bila tidak ada
pembatasan jumlah penduduk maka penduduk akan berkembang biak dengan cepat
sebagai deret bilangan 1, 2, 4, 8, 16, 32 ......, dan disi lain jumlah pangan hanyak
mengalami pertambahan sebbagai deret bilangan 1, 2, 4, 6, 8, 10, 12 akibatnya
penduduk dunia akan mengalami kelaparan hebat. Untuk menghindari kekuranga
bahan pangan maka jumlah penduduk harus dibatasi. Untuk itu perlu dilakukan moral restrain (pengekangan diri: pengekanagn nafsu seksual,
penundaan perkawinan)”
Kepadatan
penduduk umumnya terpusat di kota-kota besar. Kepadatan penduduk yang besar
dapat menurunkan tingkat kesejahteraan penduduk itu sendiri, misalnya di bidang
perumahan. Di kota besar, sering kita jumpai perumahan-perumahan kumuh dengan
kondisi kebersihan dan kesehatan yang amat memprihatinkan. Beberapa penduduk
urban bahkan ada yang membuat rumah berbahan karton, kardus, triplek, dan
plastik yang mereka bangun di kolong-kolong jembatan dan di tepi sungai. Dengan
adanya kondisi masyarakat seperti ini maka akan mengakibatkan tingkat kesehatan
masyarkat itu sendiri menjadi tidak baik sehingga, akan mengakibatkan laju
angka kematian yang semakin tinggi.
1.2.
Rumuan Masalah
Berdasarkan latar
belakang di atas maka untuk memperjelas orientasi penelitian ini, penulis
merumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana Pertumbuhan penduduk di Indonesia?
2. Apa pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap pengembangan kesehatan?
1.3.
Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui Pertumbuhan penduduk di
indonesia
2.
Untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan penduduk
terhadap pengembangan kesehatan
BAB II
ISI
1.1.
Pertumbuhan Penduduk
di Indonesia
Pertumbuhan penduduk suatu
daerah dipengaruhi oleh fertilitas, mortalitas dan migrasi. apabila angka
fertilitas lebih besar daripada angka mortalitas, maka pertumbuhan penduduk
menjadi positif. Begitu juga dengan migrasi, apabila nilai migrasi masuk lebih
besar daripada nilai migrasi keluar, maka pertumbuhan penduduk menjadi positif.
Jumlah
penduduk di suatu daerah atau negara mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
Perubahan ini disebut dinamika penduduk. Perubahan penduduk ini meliputi
kelahiran, kematian, dan migrasi. S edangkan, jumlah penduduk yang meningkat
dari tahun ke tahun disebut pertumbuhan penduduk.
Pertumbuhan
penduduk sangat dipengaruhi oleh kelahiran, kematian, dan migrasi. Pertumbuhan
penduduk dikatakan meningkat bila kelahiran lebih tinggi daripada
kematian. Selain itu, jumlah orang yang datang (bermigrasi) lebih banyak
daripada kematian. Pertumbuhan penduduk dikatakan menurun bila kematian lebih
tinggi daripada kelahiran. Selain itu, jumlah orang yang keluar atau bermigrasi
lebih sedikit daripada kematian.
1. Angka
Kelahiran (Natalitas)
Angka
kelahiran adalah angka yang menunjukkan bayi yang lahir dari setiap 1000
penduduk per tahun. Angka kelahiran bayi dapat dibagi menjadi tiga kriteria,
yaitu:
a.
Angka kelahiran dikatakan tinggi jika angka kelahiran >
30 per tahun.
b.
Angka kelahiran dikatakan sedang jika angka kelahiran 20-30
per tahun.
c.
Angka kelahiran dikatakan rendah jika angka kelahiran
< 20 per tahun.
2. Angka
Kematian (Mortalitas)
Mortalitas merupakan angka
yang menunjukkan jumlah kematian dari setiap 1000 penduduk per tahun.
Mortalitas dibagi menjadi tiga kriteria, yaitu: 1) Mor talitas dikatakan tinggi
jika angka kematian > 18 per tahun. 2) Mortalitas dikatakan sedang jika
angka kematian antara 14-18 per tahun. 3) Mortalitas dikatakan rendah jika
angka kematian antara 9-13 per tahun.
Pertumbuhan penduduk suatu wilayah juga dapat di pengaruhi oleh dengan
adanya Migrasi, Urbanisasi, dan proses angka kalahiran yang tidak bisa di
seimbangkan dengan angka kematian, proses angka kelahiran yang semakin banyak
dalam suatu wilayah dapat mengakibatkan kepadatan penduduk yang semakin
meningkat setiap tahun, sehingga mengakiatkan tingkat kesejahteraan masyarakat
semakin menurun, dan keshatan masyarakat yang kian terpuruk.
Kepadatan
penduduk umumnya terpusat di kota-kota besar. Kepadatan penduduk yang besar
dapat menurunkan tingkat kesejahteraan penduduk itu sendiri, misalnya di bidang
perumahan. Di kota besar, sering kita jumpai perumahan-perumahan kumuh dengan
kondisi kebersihan dan kesehatan yang amat memprihatinkan. Beberapa penduduk
urban bahkan ada yang membuat rumah berbahan karton, kardus, triplek, dan
plastik yang mereka bangun di kolong-kolong jembatan dan di tepi sungai. Dengan
adanya kondisi masyarakat seperti ini maka akan mengakibatkan tingkat kesehatan
masyarakat itu sendiri menjadi tidak baik sehingga, akan mengakibatkan laju
angka kematian yang semakin tinggi.
Di Indonesia sendiri pertumbuhan penduduk sangatlah signifikan
laju pertumbuhannya Berdasarkan
Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai 237,6 juta jiwa
atau bertambah 32,5 juta jiwa sejak tahun 2000. Artinya, setiap tahun selama
periode 1990-2000, jumlah penduduk bertambah 3,25 juta jiwa. Jika di alokasikan
ke setiap bulan maka setiap bulannya penduduk Indonesia bertambah sebanyak
270.833 jiwa atau sebesar 0,27 juta jiwa.
Jumlah
penduduk Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan dengan laju
pertumbuhan yang tinggi pula. Jumlah penduduk Indoneesia dari tahun 1971-2010
serta pertumbuhannya adalah sebagai berikut :
Jumlah Penduduk Indonesia Berdasarkan Sensus Penduduk Tahun 1971, 1980, 1990, 2000 dan 2010 (Juta Jiwa)
Jumlah Penduduk Indonesia Berdasarkan Sensus Penduduk Tahun 1971, 1980, 1990, 2000 dan 2010 (Juta Jiwa)
|
No
|
Tahun
|
Jumlah
Penduduk
|
|
1
|
1971
|
119,2
|
|
2
|
1980
|
147,5
|
|
3
|
1990
|
179,4
|
|
4
|
2000
|
205,1
|
|
5
|
2010
|
237,6
|
Keterangan:
Jumlah penduduk tahun 2010 yang disajikan ini merupakan data sementara hasil
SP2010 yang dibacakan oleh Presiden SBY dalam pidato kenegaraan 16 agustus
2010. Data final hasil SP2010 kemungkinan besar baru di lansir tahun 2011 Laju
Pertumbuhan Pertumbuhan Penduduk Indonesia Tahun 1971-2010 (Persen)
Periode 1971-1980, 1980-1990 1990-2000
2000-2010 Laju Pertumbuhan 2,30 1,97, 1,49, 1,48 Keterangan: pertumbuhan
penduduk sementara.
Laju
pertumbuhan penduduk Indonesia tahun 2000-2010 sebesar 1,48 persen pertahun.
Artinya bahwa setiap tahunnya antara tahun 2000 sampai 2010 jumlah penduduk
Indoneisa bertambah sebesar 1,48 persennya. Dengan jumlah penduduk sebesar
237,6 juta jiwa tersebut, membuat Indonesia tetap bercokol sebagai negara
berpenduduk terbanyak setelah RRC, India dan Amerika Serikat.
Semakin
banyak pertumbuhan penduduk di Indonesia namun tak sejalan dengan pertumbuhan
pembangunan di Indonesia sendiri. Sehingga menambah tingkat kemiskinan di
Indonesia. Seharusnya pemerintah menyeimbangi tingkat pertumbuhan penduduknya
dengan pertumbuhan pembangunan itu sendiri. Sehingga tingkat kemiskinan di
Indonesia paling tidak sedikit dapat teratasi. Semoga pemerintah kita dapat
semakin konsen untuk memikirkan nasib penduduk nya khususnya warga miskin, yang
segala pelayanan kesehatan atau umum lainnya dapat dirasakan seluruh penduduk
di Negara Indonesia ini.
Dengan data seperti itu, kata Wynandin
tampaknya pemerintah perlu kembali menengok kebijakan Keluarga Berencana yang
dinilai mampu menekan laju pertumbuhan dari 2,32 persen pada tahun 1971-1980
menjadi 1,97 persen pada tahun 1980-1990. "Penurunan ini harus diakui
berkat kebijakan KB," katanya. Menurut Wynandin apabila laju pertumbuhan
ini tidak ditekan, dikhawatirkan laju pertumbuhan penduduk di tahun-tahun
mendatang bisa menyentuh 1,5 persen.
Untuk
itu agar dapat menekan laju pertumbuhan penduduk maka pemerintah harus segera
mengambil sebuah kebijakan yang dapat di relisasikan kemasyarkat, dengan
mencanangkan program KB (Keluarga Berncana), membatasi usia kawin muda, dan
memberikan akses kesehatan yang baik kepada masyarakat agar bisa terlaksana
suatu masyarakat yang lebih sejahtera, baik itu dalam bidang ekonomi,
pendidikan dan kesehatan, hal tersebut juga akan bisa menekan laju angka
kemiskinan yang setiap tahunnya semakin meningkat, sehinga mengakibatkan
tingkat kejahatan semakin tinggi.
1.2. Pengaruh
Pertumbuhan Penduduk Tehadap Kesehatan
Pertumbuhan
penduduk, kualitas sumber daya manusia (SDM) yang rendah, dan sempitnya
kesempatan kerja merupakan akar permasalahan kemiskinan. Jadi aspek
demografis mempunyai kaitan erat dengan masalah kemiskinan yang dihadapi di
Indonesia pada saat ini. Daerah miskin sering ditinggalkan penduduknya untuk
bermigrasi ke tempat lain dengan alasan mencari kerja. Mereka dapat berpindah
secara permanen, menjadi migran ulang-alik, menjadi migran sirkuler yakni
bekerja di tempat lain dan pulang ke rumahnya sekali dalam beberapa minggu atau
beberapa bulan, atau menjadi migran musiman, misalnya bekerja di kota setelah
musim tanam dan musim panen.
Pertumbuhan
penduduk dapat mengakibatkan Kemiskinan dan kemiskinan berkaitan erat dengan
kemampuan mengakses pelayanan kesehatan serta pemenuhan kebutuhan gizi dan
kalori. Dengan demikian penyakit masyarakat umumnya berkaitan dengan penyakit
menular, seperti diare, penyakit lever, dan TBC. Selain itu, masyarakat juga
menderita penyakit kekurangan gizi termasuk busung lapar, anemi terutama pada
bayi, anak-anak, dan ibu hamil. Kematian bayi adalah konsekuensi dari penyakit
yang ditimbulkan karena kemiskinan ini (kekurangan gizi menyebabkan bayi rentan
terhadap infeksi).
Keluarga mempunyai
tanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar anggotanya
seperti pendidikan, kesehatan, dan lingkungan hidup. Oleh karenanya diperlukan
pemberdayaan keluarga terutama melalui peningkatan akses terhadap informasi
tentang permasalahan ini.
Indonesia
memiliki berbagai masalah dari berbagai sektor, salah satunya adalah sektor
kesehatan. Masyarakat Indonesia dinilai belum cukup sehat. Untuk menyelesaikan
masalah kesehatan tersebut, pemerintah mengupayakan berbagai kebijakan untuk
menyelesaikannya. Kebijakan-kebijakan tersebut harus disesuaikan dengan masalah
yang sedang dihadapi. Masalah-masalah yang sedang dihadapi Indonesia dalam hal
kesehatan antara lain:
- Tingginya angka pertumbuhan penduduk
- Tingginya angka kematian ibu dan anak
- Tingginya angka kesakitan penyakit menular
- Meningkatnya angka kesakitan penyakit tidak menular
- Masalah kesehatan lingkungan
Terjadinya
masalah-masalah tersebut dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, yaitu:
- faktor sosial ekonomi :
·
pendidikan rendah
·
penghasilan rendah
·
kurangnya kesadaran dalam pemeliharaan kesehatan
- Gaya hidp dan perilaku masyaralat
·
Kebiasaan yang merugikan kebiasaan
·
Adat itiadat yang tidak menunjang kesehatan
- Lingkungan masyarakat (peran masyarakat)
- Sistem pelayanan kesehatan
·
Cakupan pelayanan kesehatan yang belum menyeluruh
·
Sarana dan prasarana yang kurang mennjang
·
Keterbatasan tenga dan penybaran tenaga kesehatan yang belum
merata
·
Upaya pelayanan masih bersifat kuratif
Kebijakan
pemerintah dalam hal kesehatan terdiri atas visi, misi, strategi dan program
kesehatan. Masing-masing memiliki peran untuk mewujudkan masyarakat Indonesia
yang sehat. Kebijakan pemerintah tersebut antara lain:
- Pemantapan kerjasama lintas sektor
- Peningkatan perlaku, kemandirian masyarakat, dan kemitraan swasta
- Peningkatan kesehatan lingkungan
- Peningkatan upaya kesehatan
- Peningkatan sumber daya kesehatan
- Peningkatan kebijakan dan menejemen pembangunan kesehatan
- Peningkatan perlindungan kesehatan masyarakat terhadap penggunaan obat, makanan dan alat kesehatan yang illegal
- Peningkatan IPTEK kesehatan
Akan
tetapi hal tersebut belum bisa direalisasikan oleh pemerintah dalam hal menekan
laju angka pertumbuhan penduduk di Indonesia saat ini, maka dari itu perlu
adanya peran aktif dari pemerintah dan isntansi-instansi terkait dalam menekan
laju pertumbuhan demi mewujudkan masyarakat yang sejahtera.
BAB III
PENUTUP
1.1.Kesimpulan
Ø
Pertumbuhan penduduk suatu
daerah dipengaruhi oleh fertilitas, mortalitas dan migrasi. apabila angka
fertilitas lebih besar daripada angka mortalitas, maka pertumbuhan penduduk
menjadi posotif. Begitu juga dengan migrasi, apabila nilai migrasi masuk lebih
besar daripada nilai migrasi keluar, maka pertumbuhan penduduk menjadi positif.
Ø
Angka kelahiran adalah angka yang menunjukkan bayi yang
lahir dari setiap 1000 penduduk per tahun.
Ø
Mortalitas merupakan angka yang menunjukkan jumlah kematian
dari setiap 1000 penduduk per tahun
Ø
Pertumbuhan penduduk dapat
mengakibatkan Kemiskinan dan kemiskinan berkaitan erat dengan kemampuan
mengakses pelayanan kesehatan serta pemenuhan kebutuhan gizi dan kalori. Dengan
demikian penyakit masyarakat umumnya berkaitan dengan penyakit menular, seperti
diare, penyakit lever, dan TBC. Selain itu, masyarakat juga menderita penyakit
kekurangan gizi termasuk busung lapar, anemi terutama pada bayi, anak-anak, dan
ibu hamil. Kematian bayi adalah konsekuensi dari penyakit yang ditimbulkan
karena kemiskinan ini (kekurangan gizi menyebabkan bayi rentan terhadap
infeksi).
Indonesia
memiliki berbagai masalah dari berbagai sektor, salah satunya adalah sektor
kesehatan. Masyarakat Indonesia dinilai belum cukup sehat. Untuk menyelesaikan
masalah kesehatan tersebut, pemerintah mengupayakan berbagai kebijakan untuk
menyelesaikannya. Kebijakan-kebijakan tersebut harus disesuaikan dengan masalah
yang sedang dihadapi. Masalah-masalah yang sedang dihadapi Indonesia dalam hal
kesehatan antara lain:
- Tingginya angka pertumbuhan penduduk
- Tingginya angka kematian ibu dan anak
- Tingginya angka kesakitan penyakit menular
- Meningkatnya angka kesakitan penyakit tidak menular
- Masalah kesehatan lingkungan
Ø Sebagai
Negara berkembang, Indonesia masih tergolong Negara yang kurang peduli dengan
kualitas mutu kesehatan di tengah masyarakat. Salah satu bukti nyatanya adalah
dengan kurangnya tenaga medis baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Di
tengah-tengah banyaknya isu yang menerpa negeri ini, nampaknya isu kesehatan
masih tergolong dalam kebijakan yang stagnan dan belum terkoordinir. Sebut saja
masalah penyakit musiman seperti demam berdarah, malaria dan sebagainya, di
mana dalam penanganannya masih terkesan instan.
Ø Jika penurunan laju pertumbuhan penduduk bisa tercapai, berarti
negara bisa menghemat triliunan rupiah untuk biaya pendidikan dan pelayanan
kesehatan. Selain itu, dengan jumlah kelahiran yang terkendali, target
untuk meningkatkan pendidikan, kesehatan ibu dan anak, pengurangan angka
kemiskinan, dan peningkatan pendapatan per kapitan dapat lebih mudah
direalisasikan.
1.2.Saran
Ketika pertumbuhan penduduk dapat
melewati kapasitas muat suatu
wilayah atau lingkungan hasilnya berakhir dengan kelebihan penduduk. Wilayah tersebut dapat
dianggap “kurang penduduk” bila populasi tidak cukup besar untuk mengelola
sebuah sistem ekonomi. Saat ini percepatan pertumbuhan
penduduk mencapai 1,3 persen per tahun. Ini sudah mencapai titik yang
membahayakan dan harus segera ditekan dengan penggalakan program Keluarga
Berencana (KB). Jika upaya mengatasi laju pertumbuhan penduduk ini tidak
dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, maka mustahil sasaran perbaikan
kesejahteraan rakyat dapat tercapai. Oleh karena itu kita memerlukan
terobosan-terobosan baru untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk melalui
program-program yang sudah dicanangkan oleh pemerintah,seperti Keluarga
Berencana (KB). Agar bisa menekan angka kelahiran sampai 1,3 juta jiwa setahun,
BKKBN menargetkan tahun ini peserta KB baru dari keluarga pra sejahtera dan
keluarga sejahtera mencapai 12,9 juta keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
http://airdanruanggelap.blogspot.com/2011/11/tingkat-pertumbuhan-penduduk-indonesia.html.
Di akses pada tanggal 18 Oktober 2012 Jam 20.30 Wita
http://www.datastatistik-
Di
akses pada tanggal 18 Oktober 2012 Jam 20.30 Wita
indonesia.com/portal/index.php?option=com_content&task=view&id=83&Itemid=905&limit=1&limitstart=1
Di akses pada tanggal 18 Oktober 2012 Jam 20.30 Wita
http://reza-universal-info.blogspot.com/2012/01/pertumbuhan-penduduk.html
Di akses pada tanggal 18 Oktober 2012 Jam 20.30 Wita
http://algoblogs.blogspot.com/2012/04/dampak-kepadatan-populasi-manusia.html
Di akses pada tanggal 18 Oktober 2012 Jam 20.30 Wita
Borgata Hotel Casino & Spa - MapyRO
BalasHapusGet 경상남도 출장샵 directions, reviews and information 충청북도 출장안마 for Borgata Hotel Casino & Spa 영천 출장마사지 in Atlantic City, NJ. 경상북도 출장마사지 Borgata Hotel Casino & Spa. 전주 출장마사지