Kamis, 04 Juli 2013

MAKALAH CAMPURAN



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Aktivitas penelitian pada dasarnya sering dilakukan oleh manusia. Tidak hanya kalangan professor, doktor, atau juga mahasiswa. Secara tak sadar ketika seorang ibu melakukan pengamatan atas perkembangan anaknya jika dikorelasikan dengan susu formula yang diberikan, pada saat itulah sebenarnya ibu tersebut telah melakukan salah satu tindak penelitian. Demikian pula bapak tani ketika melakukan pengamatan atas jenis pupuk yang dipakai dikorelasikan dengan hasil panennya. Hanya saja penelitian itu tidak terstruktur dengan metode tertentu.
Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris dan sistematis. Rasional berarti kegiatan penelitian itu dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. Empiris berarti cara-cara yang dilakukan dapat diamati oleh indera manusia sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan. Sistematis artinya proses yang digunakan dalam penelitian itu menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis.
Antara penelitian dan metode ilmiah, kadang-kadang disamakan artinya. Penyamaan tersebut terjadi karena adanya langkah-langkah yang relatif sama. Perbedaan pokok antara penelitian dengan metode ilmiah dapat dilihat dari kegiatannya. Kerja penelitian menuntut objektivitas, baik di dalam proses atau pengukurannya, maupun penyimpulan hasil. Suatu kerja penelitian juga memerlukan proses intensif, sistematik, berfokus dan lebih formal. Selain itu, suatu kerja penelitian dilakukan dalam rangka penemuan dan pengembangan bangunan ilmu (pengembangan generalisasi, prinsip-prinsip dan teori-teori) yang memiliki kekuatan deskripsi dan atau prediksi. Sedangkan metode ilmiah mementingkan aplikasi berpikir deduktif induktif di dalam pemecahan masalah.
Dalam hubungan ini, bisa mengikuti proses identifikasi masalah (pengembangan hipotesis), melakukan observasi, menganalisis kemudian menyimpulkan hasilnya. Proses-proses tersebut dapat dilakukan secara informal dalam kehidupan sehari-hari dan belum tentu dapat disebut sebagai suatu kerja penelitian.
Dalam penelitian dikenal istilah kuantitatif dan kualitatif.  Di tingkat metodologi, sejak awal pertumbuhan ilmu-ilmu sosial sudah dikenal ada dua mazhab penelitian sosial. Dalam konteks ini Sanapiah Faisal membaginya menjadi 2 yaitu: Pertama, mazhab penelitian sosial yang menggunakan pendekatan kuantitatif, atau yang lebih populer dengan sebutan Pendekatan Penelitian Kuantitatif. Kedua, mazhab penelitian sosial yang menggunakan pendekatan kualitatif, atau yang biasa dikenal dengan sebutan Pendekatan Penelitian Kualitatif. Munculnya dua mazhab pendekatan penelitian tersebut merupakan konsekuensi metodologis dari perbedaan asumsi masing-masing tentang hakikat realitas sosial dan hakikat manusia itu sendiri. Dengan kata lain, kehadiran pendekatan penelitian kuantitatif  disatu pihak dan kehadiran pendekatan penelitian kualitatif di lain pihak, tidak terlepas dari perbedaan paradigma antara keduanya di dalam memandang hakikat realitas sosial dan hakikat manusia (Burhan Bungin, 2003: 25).
Suharsimi Arikunto berpendapat kaitan pilihan memulai dan memilih suatu pendekatan atau metode ilmiah juga yang ada dalam penelitian tentu tidak bisa terlepas dari kebaikan dan kelemahan, keuntungan dan kerugian. Oleh karena itu untuk dapat memberikan pertimbangan dan keputusan mana yang lebih baik dalam penggunaan suatu pendekatan maka terlebih dahulu perlu dipahami masing-masing pendekatan tersebut (Suharsimi Arikunto, 2006: 11).

B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dipaparkan di atas, maka untuk memudahkan pembahasan, kami buat rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apakah yang dimaksud dengan penelitian kuantitatif ?
2.      Bagaimanakah langkah-langkah penelitian kuantitatif ?
       3.              Bagaimanakah sistematika penulisan proposal penelitian kuantitatif ?

C. Tujuan Pembahasan
Tujuan pembahasan dalam makalah ini adalah agar mahasiswa/pembaca tahu tentang:
1.      Pengertian penelitian kuantitatif.
2.      Langkah-langkah penelitian kuantitatif.
3.      Sistematika penulisan proposal penelitian kuantitatif.
BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif dibangun oleh paradigma positivisme. Sebuah paradigma yang diilhami oleh David Hume, John Locke, dan Berkeley yang menekankan pengalaman sebagai sumber pengetahuan dan memandang pengetahuan memiliki kesamaan hubungan dengan aliran filsafat yang dikenal dengan nama positivisme. Untuk selanjutnya penelitian kuantitatif dikembangkan oleh para penganut paham positivisme yang dipelopori oleh August Comte. Mereka berpendapat bahwa untuk memacu perkembangan ilmu-ilmu social, maka metode metode Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) harus diadopsi ke dalam riset-riset ilmu sosial.
Penelitian kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian yang spesifikasinya adalah sistematis, terencana, dan terstruktur dengan jelas sejak awal hingga pembuatan desain penelitiannya. Definisi lain menyebutkan penelitian kuantitatif adalah penelitian yang banyak menuntut penggunaan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya. Demikian pula pada tahap kesimpulan penelitian akan lebih baik bila disertai dengan gambar, table, grafik, atau tampilan lainnya.
Menurut Sugiyono, metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivism, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu. Teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiono, 2009: 14).
Metode kuantitatif sering juga disebut metode tradisional, positivistik, scientific dan metode discovery. Metode kuantitatif dinamakan metode tradisional, karena metode ini sudah cukup lama digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk penelitian. Metode ini disebut sebagai metode positivistik karena berlandaskan pada filsafat positivisme. Metode ini disebut sebagai metode ilmiah (scientific) karena metode ini telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu konkrit, empiris, obyektif, terukur, rasional dan sistematis. Metode ini juga disebut metode discovery karena dengan metode ini dapat ditemukan dan dikembangkan berbagai iptek baru. Metode ini disebut metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik.
Penelitian kuantitatif merupakan studi yang diposisikan sebagai bebas nilai (value free). Dengan kata lain, penelitian kuantitatif sangat ketat menerapkan prinsip-prinsip objektivitas. Objektivitas itu diperoleh antara lain melalui penggunaan instrumen yang telãh diuji validitas dan reliabilitasnya. Peneliti yang melakukan studi kuantitatif mereduksi sedemikian rupa hal-hal yang dapat membuat bias, misalnya akibat masuknya persepsi dan nilai-nilai pribadi. Jika dalam penelaahan muncul adanya bias itu, penelitian kuantitatif akan jauh dari kaidah-kaidah teknik ilmiah yang sesungguhnya (Sudarwan Danim, 2002: 35).
Dalam hal pendekatan, penelitian kuantitatif lebih mementingkan adanya variabel-variabel sebagai objek penelitian dan variabel-variabel tersebut harus didefenisikan dalam bentuk operasionalisasi variabel masing-masing. Reliabilitas dan validitas merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam menggunakan pendekatan ini karena kedua elemen tersebut akan menentukan kualitas hasil penelitian dan kemampuan replikasi serta generalisasi penggunaan model penelitian sejenis. Selanjutnya, penelitian kuantitatif memerlukan adanya hipotesa dan pengujian yang kemudian akan menentukan tahapan-tahapan berikutnya,  seperti penentuan teknik analisa dan formula statistik yang akan digunakan. Juga, pendekatan ini lebih memberikan makna dalam hubungannya dengan penafsiran angka statistik bukan pada makna secara kebahasaan dan kulturalnya.
Dalam penelitian kuantitatif diyakini adanya sejumlah asumsi sebagai dasar dalam melihat fakta atau gejala. Asumsi-asumsi yang dimaksud adalah:
a)      Objek-objek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain, baik bentuk, struktur, sifat maupun dimensi lainnya.
b)      Suatu benda atau keadaan tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu.
c)       Suatu gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan, melainkan merupakan akibat dari faktor-faktor yang mempengaruhinya (Jonathan Sarwono, 2011)
Sejalan dengan penjelasan diatas, secara epistemologi paradigma kuantitatif berpandangan bahwa sumber ilmu terdiri dari dua hal, yaitu pemikiran rasional dan empiris. Karena itu, ukuran kebenaran terletak pada koherensi (sesuai dengan teori-teori terdahulu) dan korespondensi (sesuai dengan kenyataan empiris). Kerangka pengembangan ilmu itu dimulai dengan proses perumusan hipotesis yang dideduksi dari teori, kemudian diuji kebenarannya melalui verifikasi untuk diproses lebih lanjut secara induktif menuju perumusan teori baru. Jadi, secara epistemologis pengembangan ilmu itu berputar mengikuti siklus, logico, hipotetico dan verifikatif.
Ada tiga hal mendasar yang harus diketahui dalam penelitian kuantitatif yaitu aksioma, karakteristik penelitian dan proses penelitian.

a.    Aksioma (Pandangan Dasar)
Aksioma meliputi realitas, hubungan peneliti dengan yang diteliti, hubungan variable, kemungkinan generalisasi dan peranan nilai.
Aksioma Dasar
Metode Kuantitatif
Sifat realitas
Dapat diklasifikasikan, konkrit, teramati, terukur
Hubungan
peneliti dengan yang diteliti
Independen, supaya terbangun obyektivitas
Hubungan variabel
Kausalitas (sebab-akibat)
Kemungkinan generalisasi
Cenderung membuat generalisasi
Peranan nilai
Cenderung bebas nilai

b.    Karakteristik Penelitian
Penelitian kuantitatif memiliki beberapa karakteristik berikut:
1.      Desain
a)      Spesifik, jelas, rinci
b)      Ditentukan secara mantab sejak awal
c)      Menjadi pegangan langkah demi langkah.
2.      Tujuan
a)      Menunjukkan hubungan antar variable
b)      Menguji teori
c)      Mencari generalisasi yang memiliki nilai prediktif
3.      Tehnik Pengumpulan data
a)      Kuesioner
b)      Observasi dan wawancara terstruktur
4.      Instrumen Penelitian
a)      Tes, angket, wawancara terstruktur
b)      Instrument yang telah terstandart
5.      Data
a)      Kuantitatif
b)      Hasil pengukuran variable yang dioperasionalkan dengan menggunakan instrument
6.      Sampel
a)      Besar
b)      Representatif
c)      Sedapat mungkin random
d)     Ditentukan sejak awal
7.      Analisis
a)      Setelah sèlesai pengumpulan
b)      Deduktif
c)      Menggunakan statistik
8.      Hubungan dengan Responden
a)      Dibuat berjarak, bahkan sering tanpa kontak supaya obyektif 
b)      Kedudukan peneliti lebih  tinggi daripada responden
c)      Jangka pendek sampai hipotesis dapat ditemukan.
9.      Usulan Desain
a)      Luas dan rinci
b)      Literatur yang berhubungan dengan masalah dan variabel yang diteliti
c)      Prosedur yang spesifik dan rinci langkah langkahnya
d)     Masalah dirumuskan dengan spesifik dan jelas
e)      Hipotesis dirumuskan dengan jelas
f)       Ditulis secara rinci dan jelas sebelum terjun ke lapangan
10.  Kapan penelitian dianggap selesai?
a)      Setelah semua kegiatan yang direncanakan dapat diselesaikan
11.  Kepercayaan terhadap hasil Penelitian
a)      Pengujian validitas dan realiabilitas instrument (Sugiono, 2009: 23-24).

c.     Proses Penelitian
Seperti telah diketahui bahwa penelitian itu pada prinsipnya adalah untuk menjawab masalah. Masalah merupakan penyimpangan dari apa yang seharusnya dengan apa yang terjadi sesungguhnya. Penyimpangan antara aturan dengan pelaksanaan, teori dengan praktek, perencanaan dengan pelaksanaan dan sebagainya. Penelitian kuantitatif bertolak dari studi pendahuluan dari obyek yang diteliti (preliminary study) untuk mendapatkan hal yang betul-betul menjadi masalah. Selanjutnya supaya masalah dapat dijawab maka masalah tersebut dirumuskan secara spesifik dan pada umumnya dibuat dalam bentuk kalimat tanya.
Selain itu penemuan penelitian sebelumnya yang relevan juga dapat digunakan sebagai bahan untuk memberikan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian (hipotesis). Jadi kalau jawaban terhadap rumusan masalah yang baru didasarkan pada teori dan didukung oleh penelitian yang relevan tetapi belum ada pembuktian secara empiris (faktual) maka jawaban itu disebut hipotesis.
Untuk menguji hipotesis tersebut peneliti dapat rnemilih metode, strategi, pendekatan atau desain penelitian yang sesuai. Pertimbangan ideal untuk memilih metode itu adalah tingkat ketelitian data yang diharapkan dan konsistensi yang dikehendaki. Sedangkan yang menjadi pertimbangan praktis adalah tersedianya dana, waktu dan kemudahan-kemudahan yang lain.
Dalam penelitian kuantitatif, metode penelitian yang dapat digunakan adalah metode survey, ex post facto, eksperimen, evaluasi, action research dan policy research (selain metode naturalistik dan sejarah). Setelah metode penelitian yang sesuai dipilih, maka peneliti dapat menyusun instrumen penelitian. Instrumen ini digunakan sebagai alat pengumpul data yang dapat berbentuk test, angket/kuesioner untuk pedoman wawancara atau observasi. Sebelum instrumen digunakan untuk mengumpulkan data, maka instrumen penelitian harus terlebih dulu diuji validitas dan reliabilitasnya.
Pengumpulan data dilakukan pada obyek tertentu baik yang berbentuk populasi maupun sampel. Bila peneliti ingin membuat generalisasi terhadap temuannya, maka sampel yang diambil harus representatif (mewakili). Setelah data terkumpul, selanjutnya dianalisis untuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis yang diajukan dengan teknik statistik tertentu. Berdasarkan analisis  apakah hipotesis yang diajukan ditolak atau diterima, atau apakah penemuan itu sesuai dengan hipotesis yang diajukan atau tidak. Langkah terakhir dalam penelitian kuantitatif adalah rumusan kesimpulan yang merupakan jawaban terhadap rumusan masalah.
Berdasarkan proses penelitian kuantitatif di atas maka tampak bahwa proses penelitian kuantitatif bersifat linier, di mana langkah-langkahnya jelas, mulai dari rumusan masalah, berteori, berhipotesis, mengumpulkan data, analisis data dan membuat kesimpulan serta saran.

d.    Penggunaan Metode Penelilitan Kuantitatif
Metode penelitian kuantitatif tepat digunakan:
1.      Jika masalah yang menjadi titik tolak penelitian sudah jelas. Masalah adalah kesenjangan antara harapana dan kenyataan (das sollen dan das sein), antara aturan dengan pelaksanaan, antara teori dengan praktek, antara rencana dengan pelaksanaan dan sebagainya. Dalam menyusun proposal penelitian, masalah ini harus ditunjukkan dengan data, baik data hasil penelitian sendiri maupun dokurnentasi. Misalnya akan meneliti untuk menemukan pola pemberantasan kemiskinan, maka data orang miskin sebagai rnasalah harus ditunjukkan.
2.      Jika peneliti ingin mendapatkan informasi yang luas dari suatu populasi. Metode penelitian kuantitatif cocok digunakan untuk mendapatkan infomasi yang luas tetapi tidak mendalam. Bila populasi terlalu luas, maka penelitian dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut.
3.      Jika ingin diketahui pengaruh perlakuan/treatment tertentu terhadap yang lain. Untuk kepentingan ini metode eksperimen paling cocok digunakan. Misalnya pengaruh jamu tertentu terhadap derajat kesehatan.
4.      Jika peneliti bermaksud menguji hipotesis penelitian. Hipotesis penelitian dapat berbentuk hipotesis deskriptif komparatif dan asosiatif.
5.      Jika peneliti ingin mendapatkan data yang akurat, berdasarkan fenomena yang empiris dan dapat diukur. Misalnya ingin mengetahui IQ anak-anak dan masyarakat tertentu, maka dilakukan pengukuran dengan test IQ.
6.      Jika ingin menguji terhadap adanya keragu-raguan tentang validitas pengetahuan, teori dan produk tertentu.

B. Langkah-Langkah Penelitian Kuantitatif
1.    Penyusunan Latar Belakang Masalah
Latar belakang masalah memuat hal-hal yang melandasi  dilakukannya penelitian. Hal yang menarik untuk dilakukan penelitian biasanya karena adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan (das sollen dan das sein), antara aturan dengan pelaksanaan, antara teori dengan praktek, antara rencana dengan pelaksanaan dan sebagainya. Dalam bagian ini dimuat deskripsi singkat wilayah penelitian dan juga jika diperlukan hasil penelitian dari peneliti-peneliti sebelumnya. Secara rinci latar belakang masalah berisi:
a.       Argumentasi; mengapa masalah tersebut menarik untuk diteliti dipandang dari segi keilmuan maupun kebutuhan praktis.
b.      Penjelasan akibat-akibat negatif jika masalah tersebut tidak dipecahkan.
c.       Penjelasan dampak positif yang timbul dari hasil-hasil penelitian 
d.      Penjelasan bahwa masalah  tersebut relevan, aktual  dan sesuai dengan situasi dan kebutuhan zaman.
e.       Relevansinya dengan penelitian-penelitian sebelumnya.
f.       Gambaran hasil penelitian dan manfaatnya bagi masyarakat atau negara dan bagi perkembangan ilmu (Wardi Bachtiar, 1997:   ).

2.    Identifikasi, Pemilihan  dan Perumusan Masalah
a.    Identifikasi Masalah
Masalah penelitian dapat diidentifikasi sebagai adanya kesenjangan antara apa yang seharusnya dan apa yang ada dalam kenyataan, adanya kesenjangan informasi atau teori dan sebagainya.

b. Pemilihan Masalah
1.      Mempunyai nilai penelitian (asli penting dan dapat diuji).
2.      Fisible (biaya, waktu dan kondisi).
3.      Sesuai dengan kualifikasi peneliti.
4.      Menghubungkan dua variabel atau lebih (Nazir: 1988).

c.    Sumber Masalah
Bacaan, seminar, diskusi, pengamatan, pengalaman, hasil penelitian terdahulu, dan lain-lain.

d.   Perumusan Masalah 
1)      Dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya.
2)      Jelas dan padat.
3)      Dapat menjadi dasar dalam merumuskan hipotesa dan judul penelitian

Selain dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya, suatu masalah dapat dirumuskan dengan menggunakan kalimat berita. Keduanya sama baiknya akan tetapi ada perbedaan dalam kemampuannya mengkomunikasikan pesan yang ada di dalamnya. Kalimat berita lebih bersifat memberikan gambaran tentang karakteristik masalah yang bersangkutan, sedangkan kalimat tanya dapat lebih mengakibatkan adanya tantangan untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut.
Terlepas dari bentuk perumusan masalah yang digunakan, terdapat beberapa kriteria yang dapat dipakai sebagai pegangan untuk merumuskan masalah, yaitu:
1.      Masalah yang dirumuskan harus mampu menggambarkan penguraian tentang gejala-gejala yang dimilikinya dan bagaimana kaitan antara gejala satu dengan gejala lainnya.
2.      Masalah harus dirumuskan secara jelas dan tidak mendua, artinya tidak ada maksud lain yang terkandung selain bunyi masalahnya. Rumusan masalah tersebut juga harus dapat menerangkan dirinya sendiri sehingga tidak diperlukan keterangan lain untuk menjelaskannya. Masalah yang baik selalu dilengkapi dengan rumusan yang utuh antara unsur sebab dan unsur akibat sehingga dapat menantang pemikiran lebih jauh.
3.      Masalah yang baik hendaknya dapat memancing pembuktian lebih lanjut secara empiris. Suatu masalah tidak hanya menggambarkan hubungan antar gejala tetapi juga bagaimana gejala-gejala tersebut dapat diukur (Ace Suryadi: 2000).
 
3.      Perumusan Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.      Tujuan penelitian adalah suatu pernyataan tentang apa yang akan kita cari/capai dari masalah penelitian. Cara merumuskan tujuan masalah yang paling mudah adalah dengan mengubah kalimat pertanyaan dalam rumusan masalah menjadi kalimat pernyataan.
2.      Manfaat penelitian mencakup manfaat teoritis dan praktis.
3.      Telaah Pustaka

Manfaat telaah pustaka adalah:
1.      Untuk memperdalam  pengetahuan tentang masalah yang diteliti.
2.      Menyusun kerangka teoritis yang menjadi landasan pemikiran.
3.      Untuk mempertajam konsep yang digunakan sehingga memudahkan perumusan hipotesa.

4)   Untuk menghindari terjadinya pengulangan penelitian. 
Pembentukan Kerangka Teori
Kerangka teori merupakan landasan pemikiran yang membantu arah penelitian, pemilihan konsep, perumusan hipotesa dan memberi kerangka orientasi untuk klasifikasi dan analisis data (Koentjaraningrat:1973). Kerangka teori dibuat berdasarkan teori-teori yang sudah ada atau berdasarkan pemikiran logis yang dibangun oleh peneliti sendiri.
Teori yang dibahas atau teori yang dikupas harus memiliki relevansi yang kuat dengan permasalahan penelitian. Sifatnya mengemukakan bagaimana seharusnya tentang masalah yang diteliti tersebut berdasar konsep atau teori-teori tertentu. Khusus untuk penelitian hubungan dua variabel atau lebih  maka dalam landasan teori harus dapat digambarkan secara jelas bagaimana hubungan dua variabel tersebut.

6.        Perumusan Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban terhadap masalah penelitian yang secara  teoritis dianggap paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenarannya. Hipotesis merupakan kristalisasi dari kesimpulan teoritik yang diperoleh dari telaah pustaka. Secara statistik, hipotesis merupakan pernyataan mengenai keadaan populasi yang  akan diuji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dari sampel penelitian.

7.  Definisi Operasional dan Klasifikasi Variabel Penelitian
Konsep merupakan definisi dari sekelompok fakta atau gejala (yang akan diteliti). Konsep ada yang sederhana dan dapat dilihat, seperti konsep tentang meja, kursi dan sebagainya, juga ada konsep yang abstrak dan tak dapat dilihat seperti konsep partisipasi, peranan dan sebagainya. Konsep yang tak dapat dilihat disebut construct. Karena construct bergerak di alam abstrak maka perlu diubah dalam bentuk yang dapat diukur secara empiris, atau dalam kata lain perlu ada definisi operasional yakni mengubah konsep dengan kata-kata yang menggambarkan perilaku atau gejala yang dapat diamati dan dapat diuji kebenarannya oleh orang lain.
Konsep yang mempunyai variasi nilai disebut variabel. Variabel dibagi menjadi dua:
a.    Variabel deskrit/katagorikal, misalnya variabel jenis kelamin.
b.    Variabel continues, misalnya variabel umur.
Proses pengukuran variabel merupakan rangkaian dari empat aktivitas pokok yaitu:
1.          Menentukan dimensi variabel penelitian. Variabel-variabel penelitian sosial sering kali memiliki lebih dari satu dimensi. Semakin lengkap dimensi suatu variabel yang dapat diukur maka semakin baik pula ukuran yang dihasilkan.
2.          Merumuskan dimensi variabel. Setelah dimensi-dimensi suatu variabel dapat ditentukan, barulah dirumuskan ukuran untuk masing-masing dimensi. Ukuran ini biasanya berbentuk pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan dimensi tadi.
3.          Menentukan tingkat ukuran yang akan digunakan dalam pengukuran. Apakah skala: nominal, ordinal, interval atau ratio.
4.          Menguji tingkat validitas dan reliabilitas dari alat pengukur apabila yang dipakai adalah alat ukur yang baru.
Contoh yang bagus dalam proses pengukuran suatu variabel dikemukakan oleh Glock dan Stark yang mengembangkan  suatu konsep untuk mengukur tingkat religiusitas. Menurut pendapat mereka, konsep religiusitas mempunyai lima dimensi berikut:  
1.             Ritual Involvement, yaitu tingkatan sejauh mana orang mengerjakan kewajiban ritual di dalam agama mereka. Seperti sholat, puasa, membayar zakat, dan lain-lain, bagi yang beragama Islam.
2.             Ideologi Involvement, yaitu tingkatan sejauh mana orang menerima hal-hal yang dogmatik di dalam agama mereka masing-masing. Misal apakah seseorang yang beragama percaya tentang adanya malaikat, hari kiamat, surga, neraka, dan hal lain yang sifatnya dogmatik.
3.             Intellectual Involvement, sebenarnya sejauh mana seseorang mengetahui tentang ajaran agamanya. Seberapa jauh aktivitasnya di dalam menambah pengetahuan agamanya, apakah dia mengikuti pengajian, membaca buku-buku agama, bagi yang beragama Islam. Bagi yang beragama Kristen apakah dia menghadiri Sekolah Minggu, membaca buku-buku agama, dan lain-lain. Demikian pula dengan pemeluk agama lainnya, apakah dia mengerjakan hal-hal yang serupa.
4.             Experiential Involvement, yaitu dimensi yang berisikan pengalaman-pengalaman unik dan spektakuler yang merupakan keajaiban yang datang dari Tuhan. Misalnya, apakah seseorang pernah merasakan bahwa doanya dikabulkan Tuhan; apakah dia pernah merasakan bahwa jiwanya selamat dari bahaya karena pertolongan Tuhan, dan lain-lain.
5.             Consequential Involvement, yaitu dimensi yang mengukur sejauh mana perilaku seseorang dimotifikasikan oleh ajaran agamanya. Misalkan apakah dia menerapkan ajaran agamanya di dalam kehidupan sosial. Misalnya, apakah dia pergi mengunjungi tetangganya yang sakit, mendermakan sebagian kekayaannya untuk kepentingan fakir miskin, menyumbangkan uangnya untuk pendirian rumah yatim piatu, dan lain-lain (Djamaludddin Ancok, 1989: 32).
Dimensi-dimensi di atas kemudian diperinci dalam aspek yang lebih kecil dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian dijadikan komponen alat pengukur terhadap dimensi tingkat religiusitas.

C. Sistematika Penulisan Proposal Penelitian Kuantitatif
Proposal penelitian pada umumnya memuat 3 bagian, yaitu: bagian awal, bagian utama dan bagian akhir. Bagian awal memuat halaman judul, halaman persetujuan dan daftar isi. Bagian utama memuat latar belakang masalah, rumusan masalah/fokus penelitian, tujuan penelitian, hipotesis penelitian, kegunaan hasil penelitian, penegasan istilah, tinjauan pustaka, kerangka konseptual, paradigma penelitian, metode penelitian dan sistematika pembahasan. Sedangkan bagian akhir memuat daftar rujukan dan lampiran (Ahmad Tanzeh, 2011: 99).
Sebagai acuan, proposal penelitian kuantitatif dapat dikemas dalam sistematika penulisan sebagai berikut:
I .    Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Pembatasan Masalah
D. Perumusan Masalah
E. Tujuan Penelitian
F. Kegunaan/Manfaat Penelitian
II.   Deskripsi Teori, Kerangka Berpikir, Dan Hipotesis
A. Deskripsi Teoretik
B. Kerangka Berpikir
C. Hipotesis
III.  Prosedur Penelitian
A. Metode Penelitian
B. Populasi dan Sampel
C. Instrumen Penelitian
D. Tehnik Pengumpulan Data
E. Tehnik Analisis Data
IV.  Organisasi dan Jadwal Kegiatan Penelitian
A.  Organisasi Penelitian
B.  Jadwal Penelitian
V.   Biaya yang Diperlukan (Sugiyono, 2009: 384).





BAB III
KESIMPULAN

Dari hasil pembahasan makalah di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.    Penelitian kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian yang spesifikasinya adalah sistematis, terencana, dan terstruktur dengan jelas sejak awal hingga pembuatan desain penelitiannya. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang banyak menuntut penggunaan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan dari hasilnya.
2.    Proses penelitian kuantitatif bersifat linier, di mana langkah-langkahnya jelas, mulai dari penyusunan latar belakang masalah; identifikasi, pemilihan dan perumusan masalah; perumusan tujuan dan manfaat penelitian; telaah pustaka; pembentukan kerangka teori; perumusan hipotesis; serta definisi operasional dan klasifikasi variabel penelitian.
3.    Penyusunan proposal penelitian kuantitatif mengikuti sistematika sebagai berikut:

I .  Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Pembatasan Masalah
D. Perumusan Masalah
E. Tujuan Penelitian
F. Kegunaan/Manfaat Penelitian
II.   Deskripsi Teori, Kerangka Berpikir, dan Hipotesis
A. Deskripsi Teoretik
B. Kerangka Berpikir
C. Hipotesis
III.  Prosedur Penelitian
A. Metode Penelitian
B. Populasi dan Sampel
C. Instrumen Penelitian
D. Tehnik Pengumpulan Data
E. Tehnik Analisa Data
IV.  Organisasi dan Jadwal Kegiatan Penelitian
A.  Organisasi Penelitian
B.   Jadwal Penelitian
V.   Biaya yang Diperlukan


DAFTAR PUSTAKA

Ancok, Djamaluddin. (1989). Teknik Penyusunan Skala Pengukuran.
Yogyakarta:PPK UGM.
Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Bachtiar, Wardi. (1997). Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah. Jakarta: Logos.
Bungin, Burhan. (2003). Metodologi Penelitian Kualitatif.  
Jakarta: Raja Grafindo.
Danim, Sudarwan. (2002).  Menjadi Peneliti Kualitatif.  Bandung: Pustaka Setia.
Jonathan, Sarwono. Perbedaan Dasar antara Pendekatan Kualittif dan Kuantitatif.  http://js.unikom.ac.id/kualitatif/beda.html. Didownload pada  22 Desember 2012.
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Tanzeh, Ahmad. (2011). Metodologi Penelitian Praktis. Yogyakarta: Teras


BAB I
PENDAHAULUAN
1.1.   Latar Belakang
Penduduk merupakan unsur penting dalam usaha untuk meningkatkan produksi dan mengembangkan kegiatan ekonomi. Penduduk memegang peranan penting karena menyediakan tenaga kerja, tenaga ahli, pimpinan perusahaan dan tenaga usahawan yang diperlukan untuk menciptakan kegiatan ekonomi. disamping itu, pertambahan jumlah penduduk mengakibatkan bertambah dan makin kompleksnya kebutuhan.
Jumlah penduduk dunia selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 0 Masehi, penduduk dunia diperkirakan berjumlah seperempat miliar. Pada tahun 1600-an meningkat dua kali lipat menjadi setengah miliar penduduk. Lalu pada tahun 1970 penduduk dunia bertambah menjadi 3,6 miliar. Hanya 30 tahun kemudian, yaitu pada tahun 2000, penduduk dunia sudah mencapai 7 miliar jiwa. Dengan data tersebut, kita bisa melihat betapa pesatnya pertambahan jumlah umat manusia.
Pertambahan jumlah penduduk yang paling besar justru terjadi di negara-negara miskin. Hal tersebut membuat jurang kesenjangan antara negara kaya dengan negara miskin menjadi semakin besar. Seorang ahli ekonomi Inggris bernama Thomas Robert Malthus pada tahun 1828 pernah meramalkan bahwa umat manusia sedang menuju kesengsaraan karena jika jumlah populasi manusia semakin bertambah, maka lahan pertaian secara otomatis akan semakin berkurang. Akibatnya, akan terjadi kelaparan, kriminalitas, kemerosotan moral, wabah penyakit, dan bahkan perang untuk memperebutkan lahan.
Penduduk juga merupakan sekumpulan orang-orang yang telah lama menempati suatu daerah. Kepadatan penduduk dapat dihitung berdasarkan jumlah penduduk untuk setiap satu kilometer persegi. Cara menghitungnya adalah dengan membandingkan jumlah penduduk di suatu daerah dengan luas daerah yang ditempati.
Pertumbuhan penduduk suatu daerah dipengaruhi oleh fertilitas, mortalitas dan migrasi. apabila angka fertilitas lebih besar daripada angka mortalitas, maka pertumbuhan penduduk menjadi posotif. Begitu juga dengan migrasi, apabila nilai migrasi masuk lebih besar daripada nilai migrasi keluar, maka pertumbuhan penduduk menjadi positif.
Jumlah penduduk di suatu daerah atau negara mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan ini disebut dinamika penduduk. Perubahan penduduk ini meliputi kelahiran, kematian, dan migrasi. S edangkan, jumlah penduduk yang meningkat dari tahun ke tahun disebut pertumbuhan penduduk.
Pertumbuhan penduduk sangat dipengaruhi oleh kelahiran, kematian, dan migrasi. Pertumbuhan penduduk dikatakan meningkat bila  kelahiran lebih tinggi daripada kematian. Selain itu, jumlah orang yang datang (bermigrasi) lebih banyak daripada kematian. Pertumbuhan penduduk dikatakan menurun bila kematian lebih ti nggi daripada kelahiran. Selain itu, jumlah orang yang keluar atau bermigrasi lebih sedikit daripada kematian.
Pertumbuhan penduduk suatu wilayah juga dapat di pengaruhi oleh dengan adanya Migrasi, Urbanisasi, dan proses angka kalahiran yang tidak bisa di seimbangkan dengan angka kematian, proses angka kelahiran yang semakin banyak dalam suatu wilayah dapat mengakibatkan kepadatan penduduk yang semakin meningkat setiap tahun, sehingga mengakiatkan tingkat kesejahteraan masyarakat semakin menurun, dan keshatan masyarakat yang kian terpuruk.
Menurut Pemikiran seorang pendeta bernama Thomas Robert Malthus (1748 –1834) tentang penduduk dalam  esseai-nya yang berjudul ”Essay  on Principle of Population it Affects the Future’ telah membangunkan kesadaran para ilmuwan dan anggota masyarakat untuk menyadari tentang  dampak jumlah penduduk yang tidak terkendali bagi kehidupan manusia sendiri. Dalam esseai-nya tersebut  Thomas Robert Malthus menyatakan: ”apa bila tidak ada pembatasan jumlah penduduk maka penduduk akan berkembang biak dengan cepat sebagai deret bilangan 1, 2, 4, 8, 16, 32 ......, dan disi lain jumlah pangan hanyak mengalami pertambahan sebbagai deret bilangan 1, 2, 4, 6, 8, 10, 12 akibatnya penduduk dunia akan mengalami kelaparan hebat. Untuk menghindari kekuranga bahan pangan maka jumlah penduduk harus dibatasi. Untuk itu  perlu dilakukan moral            restrain (pengekangan diri: pengekanagn nafsu seksual, penundaan  perkawinan)”
Kepadatan penduduk umumnya terpusat di kota-kota besar. Kepadatan penduduk yang besar dapat menurunkan tingkat kesejahteraan penduduk itu sendiri, misalnya di bidang perumahan. Di kota besar, sering kita jumpai perumahan-perumahan kumuh dengan kondisi kebersihan dan kesehatan yang amat memprihatinkan. Beberapa penduduk urban bahkan ada yang membuat rumah berbahan karton, kardus, triplek, dan plastik yang mereka bangun di kolong-kolong jembatan dan di tepi sungai. Dengan adanya kondisi masyarakat seperti ini maka akan mengakibatkan tingkat kesehatan masyarkat itu sendiri menjadi tidak baik sehingga, akan mengakibatkan laju angka kematian yang semakin tinggi.


1.2.   Rumuan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka untuk memperjelas orientasi penelitian ini, penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut :
1.      Bagaimana Pertumbuhan penduduk di Indonesia?
2.      Apa pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap pengembangan kesehatan?

1.3.   Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui Pertumbuhan penduduk di indonesia
2.      Untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap pengembangan kesehatan




BAB II
ISI
1.1.   Pertumbuhan Penduduk di Indonesia
Pertumbuhan penduduk suatu daerah dipengaruhi oleh fertilitas, mortalitas dan migrasi. apabila angka fertilitas lebih besar daripada angka mortalitas, maka pertumbuhan penduduk menjadi positif. Begitu juga dengan migrasi, apabila nilai migrasi masuk lebih besar daripada nilai migrasi keluar, maka pertumbuhan penduduk menjadi positif.
Jumlah penduduk di suatu daerah atau negara mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan ini disebut dinamika penduduk. Perubahan penduduk ini meliputi kelahiran, kematian, dan migrasi. S edangkan, jumlah penduduk yang meningkat dari tahun ke tahun disebut pertumbuhan penduduk.
Pertumbuhan penduduk sangat dipengaruhi oleh kelahiran, kematian, dan migrasi. Pertumbuhan penduduk dikatakan meningkat bila  kelahiran lebih tinggi daripada kematian. Selain itu, jumlah orang yang datang (bermigrasi) lebih banyak daripada kematian. Pertumbuhan penduduk dikatakan menurun bila kematian lebih tinggi daripada kelahiran. Selain itu, jumlah orang yang keluar atau bermigrasi lebih sedikit daripada kematian.
1.      Angka Kelahiran (Natalitas)
Angka kelahiran adalah angka yang menunjukkan bayi yang lahir dari setiap 1000 penduduk per tahun. Angka kelahiran bayi dapat dibagi menjadi tiga kriteria, yaitu:
a.       Angka kelahiran dikatakan tinggi jika angka kelahiran > 30 per tahun.
b.      Angka kelahiran dikatakan sedang jika angka kelahiran 20-30 per tahun.
c.       Angka  kelahiran dikatakan rendah jika angka kelahiran < 20 per tahun.
2.      Angka Kematian (Mortalitas)
Mortalitas merupakan angka yang menunjukkan jumlah kematian dari setiap 1000 penduduk per tahun. Mortalitas dibagi menjadi tiga kriteria, yaitu: 1) Mor talitas dikatakan tinggi jika angka kematian > 18 per tahun. 2) Mortalitas dikatakan sedang jika angka kematian antara 14-18 per tahun. 3) Mortalitas dikatakan rendah jika angka kematian antara 9-13 per tahun.
Pertumbuhan penduduk suatu wilayah juga dapat di pengaruhi oleh dengan adanya Migrasi, Urbanisasi, dan proses angka kalahiran yang tidak bisa di seimbangkan dengan angka kematian, proses angka kelahiran yang semakin banyak dalam suatu wilayah dapat mengakibatkan kepadatan penduduk yang semakin meningkat setiap tahun, sehingga mengakiatkan tingkat kesejahteraan masyarakat semakin menurun, dan keshatan masyarakat yang kian terpuruk.
Kepadatan penduduk umumnya terpusat di kota-kota besar. Kepadatan penduduk yang besar dapat menurunkan tingkat kesejahteraan penduduk itu sendiri, misalnya di bidang perumahan. Di kota besar, sering kita jumpai perumahan-perumahan kumuh dengan kondisi kebersihan dan kesehatan yang amat memprihatinkan. Beberapa penduduk urban bahkan ada yang membuat rumah berbahan karton, kardus, triplek, dan plastik yang mereka bangun di kolong-kolong jembatan dan di tepi sungai. Dengan adanya kondisi masyarakat seperti ini maka akan mengakibatkan tingkat kesehatan masyarakat itu sendiri menjadi tidak baik sehingga, akan mengakibatkan laju angka kematian yang semakin tinggi.
Di Indonesia sendiri pertumbuhan penduduk sangatlah signifikan laju pertumbuhannya Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai 237,6 juta jiwa atau bertambah 32,5 juta jiwa sejak tahun 2000. Artinya, setiap tahun selama periode 1990-2000, jumlah penduduk bertambah 3,25 juta jiwa. Jika di alokasikan ke setiap bulan maka setiap bulannya penduduk Indonesia bertambah sebanyak 270.833 jiwa atau sebesar 0,27 juta jiwa.
Jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan dengan laju pertumbuhan yang tinggi pula. Jumlah penduduk Indoneesia dari tahun 1971-2010 serta pertumbuhannya  adalah sebagai berikut :
Jumlah Penduduk Indonesia Berdasarkan Sensus Penduduk Tahun 1971, 1980, 1990, 2000 dan 2010 (Juta Jiwa)
No
Tahun
Jumlah Penduduk
1
1971
119,2
2
1980
147,5
3
1990
179,4
4
2000
205,1
5
2010
237,6
Keterangan:  Jumlah penduduk tahun 2010 yang disajikan ini merupakan data sementara hasil SP2010 yang dibacakan oleh Presiden SBY dalam pidato kenegaraan 16 agustus 2010. Data final hasil SP2010 kemungkinan besar baru di lansir tahun 2011 Laju Pertumbuhan Pertumbuhan Penduduk Indonesia Tahun 1971-2010 (Persen) Periode 1971-1980, 1980-1990    1990-2000    2000-2010 Laju Pertumbuhan 2,30 1,97, 1,49, 1,48 Keterangan: pertumbuhan penduduk sementara.
Laju pertumbuhan penduduk Indonesia tahun 2000-2010 sebesar 1,48 persen pertahun. Artinya bahwa setiap tahunnya antara tahun 2000 sampai 2010 jumlah penduduk Indoneisa bertambah sebesar 1,48 persennya. Dengan jumlah penduduk sebesar 237,6 juta jiwa tersebut, membuat Indonesia tetap bercokol sebagai negara berpenduduk terbanyak setelah RRC, India dan Amerika Serikat.
Semakin banyak pertumbuhan penduduk di Indonesia namun tak sejalan dengan pertumbuhan pembangunan di Indonesia sendiri. Sehingga menambah tingkat kemiskinan di Indonesia. Seharusnya pemerintah menyeimbangi tingkat pertumbuhan penduduknya dengan pertumbuhan pembangunan itu sendiri. Sehingga tingkat kemiskinan di Indonesia paling tidak sedikit dapat teratasi. Semoga pemerintah kita dapat semakin konsen untuk memikirkan nasib penduduk nya khususnya warga miskin, yang segala pelayanan kesehatan atau umum lainnya dapat dirasakan seluruh penduduk di Negara Indonesia ini.
Dengan data seperti itu, kata Wynandin tampaknya pemerintah perlu kembali menengok kebijakan Keluarga Berencana yang dinilai mampu menekan laju pertumbuhan dari 2,32 persen pada tahun 1971-1980 menjadi 1,97 persen pada tahun 1980-1990. "Penurunan ini harus diakui berkat kebijakan KB," katanya. Menurut Wynandin apabila laju pertumbuhan ini tidak ditekan, dikhawatirkan laju pertumbuhan penduduk di tahun-tahun mendatang bisa menyentuh 1,5 persen.
Untuk itu agar dapat menekan laju pertumbuhan penduduk maka pemerintah harus segera mengambil sebuah kebijakan yang dapat di relisasikan kemasyarkat, dengan mencanangkan program KB (Keluarga Berncana), membatasi usia kawin muda, dan memberikan akses kesehatan yang baik kepada masyarakat agar bisa terlaksana suatu masyarakat yang lebih sejahtera, baik itu dalam bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan, hal tersebut juga akan bisa menekan laju angka kemiskinan yang setiap tahunnya semakin meningkat, sehinga mengakibatkan tingkat kejahatan semakin tinggi.

1.2.   Pengaruh Pertumbuhan Penduduk Tehadap Kesehatan
Pertumbuhan penduduk, kualitas sumber daya manusia (SDM) yang rendah, dan sempitnya kesempatan kerja  merupakan akar permasalahan kemiskinan. Jadi aspek demografis mempunyai kaitan erat dengan masalah kemiskinan yang dihadapi di Indonesia pada saat ini. Daerah miskin sering ditinggalkan penduduknya untuk bermigrasi ke tempat lain dengan alasan mencari kerja. Mereka dapat berpindah secara permanen, menjadi migran ulang-alik, menjadi migran sirkuler yakni bekerja di tempat lain dan pulang ke rumahnya sekali dalam beberapa minggu atau beberapa bulan, atau menjadi migran musiman, misalnya bekerja di kota setelah musim tanam dan musim panen.
Pertumbuhan penduduk dapat mengakibatkan Kemiskinan dan kemiskinan berkaitan erat dengan kemampuan mengakses pelayanan kesehatan serta pemenuhan kebutuhan gizi dan kalori. Dengan demikian penyakit masyarakat umumnya berkaitan dengan penyakit menular, seperti diare, penyakit lever, dan TBC. Selain itu, masyarakat juga menderita penyakit kekurangan gizi termasuk busung lapar, anemi terutama pada bayi, anak-anak, dan ibu hamil. Kematian bayi adalah konsekuensi dari penyakit yang ditimbulkan karena kemiskinan ini (kekurangan gizi menyebabkan bayi rentan terhadap infeksi).
Keluarga mempunyai tanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar anggotanya seperti pendidikan, kesehatan, dan lingkungan hidup. Oleh karenanya diperlukan pemberdayaan keluarga terutama melalui peningkatan akses terhadap informasi tentang permasalahan ini.
Indonesia memiliki berbagai masalah dari berbagai sektor, salah satunya adalah sektor kesehatan. Masyarakat Indonesia dinilai belum cukup sehat. Untuk menyelesaikan masalah kesehatan tersebut, pemerintah mengupayakan berbagai kebijakan untuk menyelesaikannya. Kebijakan-kebijakan tersebut harus disesuaikan dengan masalah yang sedang dihadapi. Masalah-masalah yang sedang dihadapi Indonesia dalam hal kesehatan antara lain:
  1. Tingginya angka pertumbuhan penduduk
  2. Tingginya angka kematian ibu dan anak
  3. Tingginya angka kesakitan penyakit menular
  4. Meningkatnya angka kesakitan penyakit tidak menular
  5. Masalah kesehatan lingkungan
Terjadinya masalah-masalah tersebut dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, yaitu:
  1. faktor sosial ekonomi :
·         pendidikan rendah
·         penghasilan rendah
·         kurangnya kesadaran dalam pemeliharaan kesehatan
  1. Gaya hidp dan perilaku masyaralat
·         Kebiasaan yang merugikan kebiasaan
·         Adat itiadat yang tidak menunjang kesehatan
  1. Lingkungan masyarakat (peran masyarakat)
  2. Sistem pelayanan kesehatan
·         Cakupan pelayanan kesehatan yang belum menyeluruh
·         Sarana dan prasarana yang kurang mennjang
·         Keterbatasan tenga dan penybaran tenaga kesehatan yang belum merata
·         Upaya pelayanan masih bersifat kuratif
Kebijakan pemerintah dalam hal kesehatan terdiri atas visi, misi, strategi dan program kesehatan. Masing-masing memiliki peran untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat. Kebijakan pemerintah tersebut antara lain:
  1. Pemantapan kerjasama lintas sektor
  2. Peningkatan perlaku, kemandirian masyarakat, dan kemitraan swasta
  3. Peningkatan kesehatan lingkungan
  4. Peningkatan upaya kesehatan
  5. Peningkatan sumber daya kesehatan
  6. Peningkatan kebijakan dan menejemen pembangunan kesehatan
  7. Peningkatan perlindungan kesehatan masyarakat terhadap penggunaan obat, makanan dan alat kesehatan yang illegal
  8. Peningkatan IPTEK kesehatan
Akan tetapi hal tersebut belum bisa direalisasikan oleh pemerintah dalam hal menekan laju angka pertumbuhan penduduk di Indonesia saat ini, maka dari itu perlu adanya peran aktif dari pemerintah dan isntansi-instansi terkait dalam menekan laju pertumbuhan demi mewujudkan masyarakat yang sejahtera.


BAB III
PENUTUP
1.1.Kesimpulan
Ø  Pertumbuhan penduduk suatu daerah dipengaruhi oleh fertilitas, mortalitas dan migrasi. apabila angka fertilitas lebih besar daripada angka mortalitas, maka pertumbuhan penduduk menjadi posotif. Begitu juga dengan migrasi, apabila nilai migrasi masuk lebih besar daripada nilai migrasi keluar, maka pertumbuhan penduduk menjadi positif.
Ø  Angka kelahiran adalah angka yang menunjukkan bayi yang lahir dari setiap 1000 penduduk per tahun.
Ø  Mortalitas merupakan angka yang menunjukkan jumlah kematian dari setiap 1000 penduduk per tahun
Ø  Pertumbuhan penduduk dapat mengakibatkan Kemiskinan dan kemiskinan berkaitan erat dengan kemampuan mengakses pelayanan kesehatan serta pemenuhan kebutuhan gizi dan kalori. Dengan demikian penyakit masyarakat umumnya berkaitan dengan penyakit menular, seperti diare, penyakit lever, dan TBC. Selain itu, masyarakat juga menderita penyakit kekurangan gizi termasuk busung lapar, anemi terutama pada bayi, anak-anak, dan ibu hamil. Kematian bayi adalah konsekuensi dari penyakit yang ditimbulkan karena kemiskinan ini (kekurangan gizi menyebabkan bayi rentan terhadap infeksi).
Indonesia memiliki berbagai masalah dari berbagai sektor, salah satunya adalah sektor kesehatan. Masyarakat Indonesia dinilai belum cukup sehat. Untuk menyelesaikan masalah kesehatan tersebut, pemerintah mengupayakan berbagai kebijakan untuk menyelesaikannya. Kebijakan-kebijakan tersebut harus disesuaikan dengan masalah yang sedang dihadapi. Masalah-masalah yang sedang dihadapi Indonesia dalam hal kesehatan antara lain:
  1. Tingginya angka pertumbuhan penduduk
  2. Tingginya angka kematian ibu dan anak
  3. Tingginya angka kesakitan penyakit menular
  4. Meningkatnya angka kesakitan penyakit tidak menular
  5. Masalah kesehatan lingkungan
Ø  Sebagai Negara berkembang, Indonesia masih tergolong Negara yang kurang peduli dengan kualitas mutu kesehatan di tengah masyarakat. Salah satu bukti nyatanya adalah dengan kurangnya tenaga medis baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Di tengah-tengah banyaknya isu yang menerpa negeri ini, nampaknya isu kesehatan masih tergolong dalam kebijakan yang stagnan dan belum terkoordinir. Sebut saja masalah penyakit musiman seperti demam berdarah, malaria dan sebagainya, di mana dalam penanganannya masih terkesan instan.
Ø  Jika penurunan laju pertumbuhan penduduk bisa tercapai, berarti negara bisa menghemat triliunan rupiah untuk biaya pendidikan dan pelayanan kesehatan. Selain itu, dengan jumlah kelahiran yang terkendali, target untuk meningkatkan pendidikan, kesehatan ibu dan anak, pengurangan angka kemiskinan, dan peningkatan pendapatan per kapitan dapat lebih mudah direalisasikan.

1.2.Saran
Ketika pertumbuhan penduduk dapat melewati kapasitas muat suatu wilayah atau lingkungan hasilnya berakhir dengan kelebihan penduduk. Wilayah tersebut dapat dianggap “kurang penduduk” bila populasi tidak cukup besar untuk mengelola sebuah sistem ekonomi. Saat ini percepatan pertumbuhan penduduk mencapai 1,3 persen per tahun. Ini sudah mencapai titik yang membahayakan dan harus segera ditekan dengan penggalakan program Keluarga Berencana (KB). Jika upaya mengatasi laju pertumbuhan penduduk ini tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, maka mustahil sasaran perbaikan kesejahteraan rakyat dapat tercapai. Oleh karena itu kita memerlukan terobosan-terobosan baru untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk melalui  program-program yang sudah dicanangkan oleh pemerintah,seperti Keluarga Berencana (KB). Agar bisa menekan angka kelahiran sampai 1,3 juta jiwa setahun, BKKBN menargetkan tahun ini peserta KB baru dari keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera mencapai 12,9 juta keluarga.

DAFTAR PUSTAKA

http://reza-universal-info.blogspot.com/2012/01/pertumbuhan-penduduk.html Di akses pada tanggal 18 Oktober 2012 Jam 20.30 Wita
http://algoblogs.blogspot.com/2012/04/dampak-kepadatan-populasi-manusia.html Di akses pada tanggal 18 Oktober 2012 Jam 20.30 Wita

 

1 komentar:

  1. Borgata Hotel Casino & Spa - MapyRO
    Get 경상남도 출장샵 directions, reviews and information 충청북도 출장안마 for Borgata Hotel Casino & Spa 영천 출장마사지 in Atlantic City, NJ. 경상북도 출장마사지 Borgata Hotel Casino & Spa. 전주 출장마사지

    BalasHapus